Memulai untuk menunggu akhir

imagesjk

“How do you spell ‘love’?” Satu kata yang sampai detik ini tak dapat ditafsirkan oleh nalar.  Yapz, cause of “You don’t spell it…but you feel it.”

 

Cinta itu seperti bermain piano. Pertama, kita harus belajar untuk bermain sesuai aturan, setelah itu kita harus melupakan aturan dan bermain dari hati kita. Cinta, cinta yang kadang membuatku tertawa bahagia tak beralasan, Cinta juga yang kadang menyesakkan dada dan menyulitkanku bernafas. Makna dari cinta itu bukanlah untuk memilih dan di pilih, bukan untuk selalu bersama, dan bukan untuk selalu bahagia. Karna ketika kita memilih Cinta, artinya kita memilih untuk MENINGGALKAN atau DITINGGALKAN. Meninggal/Ditinggalkan pacar, Meninggal/Ditinggalkan cerai, Meninggal/Ditinggalka meninggal dunia. Right, that’s all make me want to tell you samothing that “All good things come to an end.”

 

Saat pertama menatap dalam dirinya, aku begitu yakin ini Cinta. Mata sejuk , senyum manis , dan sapaan hangatnya, aaah.. semua itu membuat hatiku takan pernah bisa berdusta bahwa cinta ini memang untuk dirinya. Aku sadar bertemu dengannya itu merupakan nasibku, menjadi temannya merupakan pilihanku, tapi untuk jatuh cinta dengannya, sungguh itu di luar kuasaku.

 

Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, tatapan mengisyaratkan harap, tatapan yang mengingatkan ku akan penantian panjang ini, tatapan yang akhirnya membuatku sadar, bahwa aku sangat mencintainya, dan aku tidak ingin kehilangan dia, aku tak ingin kehilangan tatapan itu. Sungguh.

 

“Woyy.. bengong aja nih” Gertak Farhan memaksa lelembutanku untuk sadar dari lamunan dan kembali ke alam nyata.

“Ih, lo resek banget, bikin kaget tau ga?” Jawabku

“Ya abis bengong mulu sih, ga ngeuh apa ada orang ganteng lagi duduk depan muka?”
“KAGAK! Kagak suer deh, deuh mana emang mana orang gantengnya gue mau liat dong?”Belaga bego.

“Eh dasar oon, iniiiii nih! Coba liaatttt bukaa matanya” Sambil membelalakkan mataku

“….” Hanya bisa melongo

“Dih, malah melongo kayak gitu kaya kambing ompong tau gak? Udah ah kita cabut yuk Ra, temenin gue makan” Mengajakku pergi sambil merangkulkan tangannya ke pundakku.

Aaahh ya tuhan, entah kenapa justru sikapnya yang seperti inilah yang melumpuhkanku, yang membuatku sejenak melayang mengantarkan jasad ke tempat yang entah aku sendiripun tak tahu namanya.

“~~~~~~~~~~~~~~~~”

Terkadang aku tak ingin waktu ini cepat berakhir, tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Sabtu ini, sabtu dimana aku harus melepas masa SMA ku, masa masa yang telah banyak mengukir kisah. Dan artinya akupun harus melepas masa masaku bersama Farhan. Orang yang selama 3 tahun ini aku kagumi dan aku cintai, walau sebatas dalam hati.

 

Dengan High Heels Silver berGlitter Pink dan Kebaya Pink dihiasi aksen Silver yang aku kenakan, hal itulah yang setidaknya bisa meyakinkanku, bahwa hari ini aku benar benar sedang berada di sebuah gedung di acara pelepasan siswa, ya hari dimana aku harus melepas semua angan dan harapan terhadap Farhan. Yaa, aku harus bisa. Mungkin aku dan Farhan hanya di takdirkan sebagai teman. Meski begitu dia akan tetap jadi tinta emas dikehidupanku.

 

Hari ini aku berharap bisa bertemu Farhan untuk terakhir kalinya setidaknya aku ingin menghambiskan sisa waktuku yang terakhir sebelum aku berangkat ke Solo untuk melanjutkan pendidikanku disana. Jam menunjukan pukul 14.20, namun Farhan tak menampakan diri sedikitpun dihadapanku. Hati mulai gelisah, bercampur dengan keraguan. Pesimis aku bisa bertemu Farhan di hari terakhir ini. Di tengah keputus asaan, Aku berniat untuk bersiap pulang menyusul beberapa teman lainnya yang sudah melenyapkan dirinya entah kemana. Namun saat aku tengah beranjak dari temat duduk ku, seseorang menepuk pundakku dan memangil namaku. Suara yang indah yang menggoda fikirku untuk bergelut menebak sosok orang tersebut. Tangan lembut itu… yaa tangan yang mengingatkanku akan kehangatan, dan kelembutannya serta kejahilan sosok orang tersebut. Ya itu pasti… Segera kutolehkan kepala, dan benar saja, kini sosok yang ku nanti tepat berada di depan mataku. Terasa berbeda, Farhan sungguh terlihat lebih mempesona dari biasanya. Dengan Jas Abu ke silveran yang iya kenakan saat itu. He looks so cool, and charm. Nyaris ku teteskan airmata karna menahan haru. Haru karna aku bisa menatap orang yang dapat menyejukan hatiku, dan sekaligus haru karna tinggal beberapa jam lagi aku harus meninggalkannya, meninggalkan dia sang inspirasiku.

 

Dari kejauhan terdengar suara Zeva sahabatku meneriakkan namaku dan disertai langkah menuju tempat dimana kau dan Farhan bediri “Raaa… Faziiraa kemana aja lo? Gue nunggu lo di depan, gue dapet bangku di depan soalnya”

“Hehe.. sory zev tadi gue dateng telat, sekitar jam 10an gue baru dateng. Acara udah di mulai kursi penuh, ya akhirnya gue dapet tempat duduk di belakang itu juga di kasih Abri sih”

“Yaudaahlah gapapa. Eh by the way busway nih ya, lo han… kok lo bisa Matchingan gtu sama si Zira? Nah loh jangan jangan?” Menggoda

“Eh lo zev, gausah sotoy. kumat dah tuh penyakit lo” Bantahku

“Ahaha iya nih, udah sehati kali ya?” Dengan enteng Farhan menjawab.

“Aciee.. moment yang tak pantas terlewatkan. Ok ok biar gue abadikan moment ini oke” Segera mengeluarkan cameranya untuk memotret Fazira dengan Farhan.
Akupun menyesuaikan posisiku untuk bersiap, sontak aku kaget tiba tiba Farhan melingkarkan tangannya di pundakku. *Jepret-Jepret* Beberapa photo berhasil di take.
Sesi photo terhenti karena Zeva dipanggil oleh pak Jaya untuk membicarakan sesuatu. Dan sekarang tinggalah Kita berdua, ya Aku dan Farhan.

 

“Euh han, lo daritadi dimana? gue cari dari tadi gak ada” Kataku memecah kesunyian

“Aahaha ada deh, kenapa? Kangeun?” Dengan nada menggoda.

“Eh Ra, lo udah mau pulang? itu udah siap siap aja tuh kayanya”

“Tadinya sih iya, tapii…”

“Tapi apa?”

“Engga deh”

“Yaah lo Raa, bikin penasaran aja. Eh Ra, keluar  dulu yuk, gaenak disini berisik”
Farhan mengajakku keluar dengan menggandeng pergelangan tanganku.

“Nahh kalo disini kan enak. Oh iya ra, lo beneran jadi mau Kuliah di solo?”

“Iya jadi Han, semuanya udah siap dan kayanya ini hari terakhir gue disini, kan besok gue udah harus berangkat. Lo lupa?”

“Engga sih, tapi ko berasa secepet itu ya? Perasaan baru kemaren lo ngomongin ini?”

“Udah 2 bulan yang lalu kali Han. Lagian lo kan tau sendiri, semenjak papah mamah pisah, rumah di jual, papah udah ngejalanin hidup barunya dan gue fikir lebih baik sekarang gue ikut mamah disolo” Jelasku sambil menundukan kepala.

“Ya tuhaan” Sesal farhan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Gimana mungkin lo mau ninggalin gue disini Ra? Ra plis kasih gue waktu” Dengan nada yang memelas”

 

Ya tuhaan? Apa aku tak salah dengar itu? Apa maksud dari kata kata itu? Batinku.
“Ra, lo kalo sama gue nyaman ga sih?” Tanya Farhan

Membuatku bertanya, kenapa ini anak mendadak nanya kaya gitu.

“Ya nyamanlah, udah selama ini gue jadi sahabat lo, lo masih nanya itu?” Jawabku yang kemudian diikuti kesunyian

“Gue mau ngomong seriusan Ra” | “Ada yang mau gue omongin Han” Kata kata itu keluar berbarengan.

“Yaudah lo dulu Han”

“Ok. Dengerin gue Ra. Gue kenal lo udah 3 tahun, dan semoga waktu 3 tahun itu benar benar membuatku yakin, Yakin akan rasa yang dari 3 tahun silam ini gue pendem. Gue gamau ngebiarain bintang gue jatuh ke tangan orang lain. Lo paham kan?

 

Apa maksudnya? Batinku. Farhan menyimpan rasa kepadaku? Begitukah? Oh yaampun, andai dia tahu bahwa akupun punya rasa yang sama.

Farhan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna Pink lengkap dengan pita. Dan sontak membuatku terkejut. Bukan hanya karna warnanya Pink, warna kesukaanku, tapi makna dari adanya benda itu.

 

“Ra, di dalem ini ada masa depan gue, tolong di baca dan fikirkan baik baik. Ok Ra? See you.” Menepuk pundakku. Farhan lalu pergi begitu saja tanpa menunggu sepatah katapun keluar dari mulutku. Rupanya Farhan paham, dia memberikanku waktu untuk memikirkan semua arti dari perkataannya.

 

Ku buka kotak itu, dan ternyata Ada cincin yang dibaliknya berinisialkan huruf F. Farhan? Fazira? Aaah aku melupakan sesuatu, di dalam kotak itu ada selembar ketas yang di lipat.

Dear Fazira

Selama ini aku menyianyiakan waktu, waktu yang menenggelamkanku kepada ketidakpastian.Rasa cinta tumbuh di hatiku seiring kita sering bersama dan seiring kita sering menghabiskan waktu bersama.

 

Zira, sekuat tenaga aku meyakinkan diriku akan ketidakbenaran rasa ini. Namun semakin aku ingkari bahwa memang rasa ini untukmu semakin aku yakin pula bahwa kaulah yang kumau untuk menjadi masa depanku,dan kaulah yang terbaik. Aku rasa waktu 3 tahun ini tidak membuatmu menyangsikan perasaanku padamu.Kau sangat tahu aku, begitupun aku padamu.Kau tentu tahu aku, aku orang yang tak bisa berkata romantis, tapi dalam surat ini, lihatlah usahaku untuk menguntai kata kata indah demi orang terindah.

 

Kamu tau? Selembar kertas dan cincin ini akan menjadi penentuan masa depanku Zira. Besok pagi aku tunggu kamu di Stasiun pemberangkatan kamu ke Solo pukul 08.00, dan pakailah cincin itu atas jawaban dari penantian panjangku.

                                                                                                            Farhan Diaz Attaqim

“~~~~~~~~~~~”

 

Pagi itu aku bergegas untuk keberangkatanku ke Solo. Aku mengenakan jeans biru dengan kaos berwarna Peach dan Jaket jeans yang senada dengan celana. Rambutku kubiarkan terkuncir ikat, dengan bando kecil polos berwarna Fresh Salmon untuk menjepit poniku. Ku kenakan kacamata Peachku yang berbingkai tosca, dan ku kenakan sepatu Sneakers biru. Yeay! It’s my favorite style.

Dengan membawa perbekalan kecil, tas jeans biru yang ku soren, koper kecil dan pastinya yang takan terlupakan yaitu kupakai Cincin pemberian dari Farhan.

 

Ada suatu perasaan yang lain dalam hati ini. Aku sunguh tak memahaminya, bahkan tak sedikitpun. Semacam rasa bimbang, deg degan, semua bercampur.

 

Pukul 07.50 aku sudah berada di Stasiun. Tentu saja sebelum berangkat ke Solo, aku ingin terlebih dahulu bertemu orang yang menurutnya aku adalah masa depannya.

Waktu berjalan, jam di tanganku sudah menunjukan pukul 08.15 menit, tapi Farhan tak kunjung datang. Ku keluarkan ponsel, berharap ada pesan singkat dari Farhan memberiku kabar atau alasan tentang ketelatannya. Namun aku salah, tak ada panggilan atau sms satupun.

Aku mencoba menyabarkan diri. Sampai aku benar benar yakin dengan jam menunjukan pukul 09.10. “1 jam 10 menit” batinku. Kereta sudah menungguku. Hingga pukul 09.55, tersisa 5 menit sebelum keberangkatanku. Dan saat itu aku yakin, Farhan tak datang untukku.

 

Tanpa menunggu lama lagi, aku bangkit dari tempat dudukku. Menghela nafas panjang, menahan rasa sesak dan perih didada. Kembali kutengok jam. Ya. tepat pukul 10.00, ini dia waktunya aku melepaskan segala kenangan, termasuk kenangan yang kuharap manis namun kenyataannya terasa pahit yakni kenangan akan hari ini. Hari dimana aku merasa dicampakkan dan dipermainkan.

 

Ku raih koperku, segera kutaiki tangga dan masuk ke dalam gerbong kereta. Ku cari tempat duduk yang kosong dan cukup lengang, beberapa menit kepalaku mengitari sekitar gerbong dan Yaps, akhirnya tatapanku berpusat ditempat yang berada diujung pojokan kanan. Akupun duduk, tepat dekat dengan jendela. Dari balik kaca kembali kutatap kursi tempatku duduk tadi, aaah…. semua ini terasa sakit. Kugigit bibir bawahku, sekan mengisyaratkan kesakitan. Jantungku bedetak tak beraturan. Semua ini bagaikan mimpi buruk bagiku. Ku tundukan kepala, memandangi cincin yang ku pakai. Air mataku meleleh tak terbendung. Aku seakan merasa telah mencintai orang yang salah.

 

Beberapa menit kemudian, seeonggoh tangan muncul dihadapanku dengan sehelai sapu tangan. Bukan menerimanya, aku malah terdiam dan tak menghiraukan tangan asing itu.

“Together someday. It’s in the dreams I have. I’ll be your sunset. If you’ll be my silhouette” senandung orang tersebut bernyanyi.

“Arrghh.. sial” Batinku. Lagu itu mengingatkanku kepada seseorang.

“Tak ada gunanya menangis” Sambung orang tersebut

“,,,,,,” cuekku sambil memalingkan wajah ke arah jendela.

“Oh ternyata seperti ini rasanya dicampakkan, aaah aku jadi merasa berdosa telah mencampakan seseorang selama 2 jam lebih”

What he said? Batinku.

Aku masih memalingkan wajah, pria itu kini duduk di sampingku.

“Sudahlah, jangan keluarkan air matamu lagi. Untuk apa kau menangisi orang yang tak kau anggap ada padahal sedari tadi berada di depanmu”

Sontak kubalikan muka, dan ku liahat sosok pria itu. Jeans, t shirt putih dan jaket dengan tas ransel yang di bawanya dan dengan kacamata hitamnya membuat hatiku mengakui betapa sempurnanya orang yang berada disampingnya itu. Sekilas aku mengenali orang tersebut. Dan perlahan ia membuka kacamatanya. Dan oh ternyaataaaaa. Farhan! Segera kuhamburkan pelukanku yang desertai pukulan pukulan kecil di dadanya.

“Maaf, membuatmu menunggu” Ucap Farhan sambil mengelus rambutku yang masik berada dalam peluknya.

“Jahat kamu!” memukulnya pelan dengan tangis yang masih tersisa.

“Mulai dari sekarang kamu harus terbiasa menerima kejahatanku Zira, karna aku juga akan pindah ikut Bude dan Pakle ku di Solo, dan aku akan kuliah disana, ya di kampus yang sama denganmu hanya saja dengan fakultas yang berbeda. Dan itu artinya berarti kau, akan sering-sering jadi korban kejahatanku seperti ini. Ahahaha” Jelas farhan.

“Kamu serius han? Kamu gak lg boongin aku? Km gak lg ngejahatain aku lg kan?”
“Seriuslah suer sebenernya aku udah nyiapin ini dari jauh jauh hari. Ra, lihat ini” menunjukan cincin yang sama. “mana punyamu, apa kamu memakainya?”
“Seharusnya aku tidak memakainya, untuk apa aku mencintai orang jahat seperti mu?”
“Ooohh jadi gitu?” Goda farhan

-_- Pipiku memerah

“Jadi, gimana ra? Kamu mau tetep jadi dayang gue eh sahabat gue maksudnya atau mau jadi pacar sekaligus masa depan gue aja?” Dengan entengnya

“HAH” Fazira Sock bukan main mendengar kata-kata Farhan. Fazira memalingkan wajah tepat beberapa senti berhadapan dengan Farhan. Meskipun ia tahu Farhan menyimpan rasa. Tapi kali ini dia benar benar kaget mendengarnya secara langsung.

 

“Udah ah itu apaan sih pasang muka kaya gitu, jelek tau” Farhan menepuk lembut pipi Fazira kemudian dengan cepat dia mengecup pipi kanannya “Gue tahu lo pasti bakalan jawab IYA” Farhan mengerling.

Fazira masih bengong mamandang Farhan. “Kenapa Ra? Pasti lo lagi bersyukur ya dapet cowok paket lengkap kaya gue?”

“Diiih amit amit GR lo ga ilang ilang” Tukas Fazira

Farhan melingkarkan tangannya di bahu fazira. Mereka duduk berdampingan, menjauh dari tempat semula jauh jalan menembus tempat tujuan. Farhan sumringah bisa melihat Fazira tersenyum lega. Dan Fazira, ia merasa lega sekaligus mengiyakan kata kata Farhan tadi. Fazira semakin yakin, inilah keputusannya ia dan Farhan memilih Cinta. Cinta yang datang untuk mengasihi tidak dengan mencari orang yang sempurna, tetapi dengan belajar untuk melihat orang yang tidak sempurna dengan sempurna. Bukan untuk mencari bahagia, karna bahagia takkan pernah kita dapat dari cinta. Seperti yang aku katakan tadi ujung dari CINTA itu sesungguhnya adalah MENINGGALKAN atau DITINGGALKAN.  Dan bagiku ini semua kisah yang baru ku mulai untuk menunggu akhir.

 

Selesai.

 

 

 

 

 

 

 

 

Award and Nominations

Assalamualaikum :)

Sempet ngilang beberapa waktu lalu gara gara iseng iseng coba bkin blog di lain tempat. *Anak bau kencur, baru belajar ngblog aja songong nih*|Maaf aku gamaksud ko. (‾▽‾)♉
Dan sekarang aku kembali ke dunia blog yang pertama aku selami yaitu wordpress ini. Come backnya aku ini *acie ielah gayanya* di sambut oleh Award yang aku dapet dari  Ka Andriyanichie.  Sebenernya dapetnya udah lama (4 Februari 2013) cuman baru di posting aja. Why? ya kan karna itu tadi aku sempat mati suri di dunia blogger :D Walaupun sebenernya pas awal ngliat itu ga paham apaan sih ini. *Ketauan OON kan?* Tapi gapapalah itu tergantung presepsi, yg penting ini Award pertama lhooo. Amazing, Alhamdulillah, dan makasih banget buat ka  Andriyanichie. \(´▽`)/

very-inspiring-blogger-award

The Rules :

1. Copy and place the award in your post.
2. Thank the person who nominated you and link back to their blog.
3. Tell 7 things about yourself.
4. Nominate 15 fellow bloggers for the award, tell them by posting a comment on their blogs.

7 Things About Me :-D

Ini harus jujur tentang diri sendiri katanya. Ok ok. Let’s see! And this’s a fact. Seriously.
1. Aku manusia
2. Aku cewek
3. Paling pentingnya aku itu NORMAL :D
4. PINK is my favorite color
5. Suka PIGLET
6. Hobinya baca novel
7. Moody

Serius, aku jujur lhoooooo… ​​​☺

For The 5 Nominations That I chose Is :
1. Ruri Alifia R. 

2. putrabbn

3. izzawa

4. Ne

5. rayundasampurna

Jeritan Hati SiAnak Kapas.

 

Senja itu menjadi saksi, dimana hari bahagia menjadi lautan penuh duka. Hanya harap yang telah usang yang menjai teman. Bayang gelap menanti sosok terangnya, namun apa daya terang itu tak kunjung datang. Hanya jerit kehampaan dalam jiwa, beban yang menggelayuti pundak Mama, menambah rasa sakit dan sesak yang iya rasakan.

 

Peluh keringat bercucuran, sekuat tenaga iya keluarkan energi yang tersisa. Lelah, sakit. Namun sakit yg ia rasa saat itu tak seberapa dengan sakit yang tertanam jauh dalam lubuk hatinya. Bagaimana tidak?! Di detik detik pertaruhan antara hidup dan mati, Mama tengah berjuang semi sang anak tercinta, sementara suami yang selama ini menjadi dewanya tengah bermandikan Asmara bersama madunya? Derai air mata mengalir sebanyak luka yang mereka torehkan. Mereka, iblis sang penghancur rumahku yg seharusnya menjadi surgaku.

 

Senja itu menjadi saksi lahirnya diriku, saat itu suara Adzan magrib menggema seiring lantunan azan yang di bisikan ke telingaku. Mataku terbuka, tangis membahana ruang. Seakan menambah haru kesedihan. Bagaimana tidak? Serempaknya adzan seolah menyambut kelahiran sang gadis kecil.

 

Saat sang fazar menyambut pagi, mentari yang kulihat hanyalah sosok Mama. Mama yang kulihat sebagai cahaya di siang hari, Mama yang ku lihat bagai senja di sore hari, dan Mamalah satu satunya bintang bersinar yg slalu ku lihat di malam sebelum mataku terlelap.Dan slalu begitu setiap hari.

 

Perjuangan kini sudah dimulai, dimana Mama dan aku harus rela terpisahkan jarak, ruang dan waktu demi memainkan peran masing masing dalam balada kehidupan ini. Ya. Mama dengan peran Single parentnya, dan aku dengan peranku yakni Anak broken home.

 

Semakin hari semakin bertambahnya usia. Mama, kini anakmu sudah dewasa. Gadis kecilmu ini sudah berubah menjadi Puteri cantik. Dulu apalah yang kurasa? Saat itu yang kutahu hanya sekedar sebatang coklat, dan yg kurasa hanyalah manisnya susu dan permen. Tapi kini, aku mengerti akan semua beban yang Mama rasa. Rasa sakit yang dulu, kini jelas bisa kurasakan. Andai aku bisa memilih memutar aku, aku ingin mengurangi beban itu dari dulu.

 

Kuakui, terkadang aku rindu rumah yang menjadi surgaku seperti surganya orang lain.
yang diserta kedua malaikat yang menemaniku, menghiasi hari hariku dengan canda dan tawa. Bukan rumah yang lebih pantas disebut ladang  gersang tanpa tanaman, terlihat lengang, sunyi, senyap, hampa.

 

Salahkah jika aku ingin suasana hangatnya keluarga.
Salahkah jika aku ingin merasakan hangatnya pelukan sang ayah?

Aku menantikan tawa hangat itu, aku menantikan senda gurau itu.

Terkadang aku ingin merasakan kemarahan sang ayah, amarah yang menunjukan kekhawatiran terhadap puterinya. Namun semua itu bagilu bagaikan mengharap bintang yang tak dapat ku raih. Tinggi terlalu tinggi, dan tak dapat kugapai.

 

Dan salahkah aku jiga ingin kau kembali? Kembali seperti dulu memelukku, dan menciumku?

Aku merindukanmu Maaa.. Rindu saat kita berua bersama.

Kini aku seperti kapas, anginlah yang menjadi arah hidupku. Dan berharap nantinya kan bertepi di keindahan.

Kini, aku hanya bisa menantikan kebahagiaan walaupun tak pasti datangnya. Tapi aku percaya bahagia itu akan datang untuk kita ma, Allah sedang mempersiapkannya. Tinggal kita yang menjemputnya atau bahkan kebahagian itulah yang akan datang sendiri menghampiri.  Surat ini kubuat saat aku hanya bisa terdiam dalam keheningan, di tengah perasaan yang membabi buta saat merasakan kehancuran.

Di pojok kamar ku menyendiri, kusampaikan salam, dariku Sianak kapas.

 

 

PIGLET

8154-Winnie_the_Pooh_Figure_Piglet_6_cm babypigflower2

Ekhem.. tes tes 123. :D Hey hey hey, aku baru ngepost lg nih. Setelah sekian lamanya aku menghilang bagaikan di telan bumi, raib tak ada jejak, tak tercium kabar, bahkan batang hidungpun tak terlihat. I’m coming back ;) Yeay!

Naah postingan aku kali ini itu pengen cuap-cuap tentang Tokoh kartun yang lucu, imut nan menggemaskan favorite aku ini nih.

Ok, langsung aja. Tau nama tokoh kartun yang satu ini? Gatau? *Yaah gapernah kecil tuh* :D Jangan bersedih hati, kamu bakal jadi tau ko abis baca ini.

Ini dia, sosok setengah Tinggi cenderung PENDEK, Sukanya cungar cengir, sama melet melet siapa lagi kalau bukan…..*Jreng jreng jreeeeeng* Dia adalaaaaaah PIGLET. *Prok prok prooook* :D

Piglet

Piglet adalah karakter dari A. A Milne, yang diperkenalkan dalam teks dari Bab III dari Winnie-the-Pooh, meskipun  ia ditampilkan  sebelumnya di salah  satu  ilustrasi untuk Bab II. Dia juga muncul dalam Bab V, VI, VII, VIII, IX, dan X, serta setiap bab dari The House at Pooh Corner. Piglet adalah teman terbaik Pooh dan juga sangat dekat dengan Christopher Robin dan  tokoh lainnya. Tokoh kartun yang satu ini memiliki tubuh berwarna pink dengan garis. Ia sangat kecil dibandingkan teman-temannya. Suaranya digambarkan  “melengking”.

Kepribadian Piglet

Piglet memiliki sifat penakut. Dia tidak suka hutan gelap dan angin kencang.  Meskipun pengecut, ia bergabung dengan Pooh dan teman-temannya untuk berpetualang dan mencoba menaklukan ketakutannya. Piglet mencintai hal-hal indah seperti bunga, sangat baik hati dan terobsesi dengan menjaga hal-hal rapi dan bersih. Dia kadang-kadang memiliki rasa rendah diri, meskipun teman-temannya berpikir tinggi dari dirinya. Makanan favorit Piglet adalah biji-bijian “haycorns”.

Nah itu dia cuap-cuap aku soal si Mungil yang satu ini, trakhir aku mau ngasih Quotes dari Piglet&Winnie The Pooh, ini niiiihh… J

-         If there ever comes a day when we can’t be together keep me in your heart, I’ll stay there forever.

-         I think that I have just remembered something. I have just remembered something that I forgot to do yesterday and shan’t be able to do tomorrow. So I suppose I really ought to go back and do it now.

-         I don’t mind the leaves that are leaving. It’s the leaves that are coming.

-         Before Piglet could think, Pooh answered for him. “He’d come and live with me,” said Pooh, “wouldn’t you, Piglet?” Piglet squeezed his paw. “Thank you, Pooh,” he said, “I should love to.”

-         When the night seems to be darkest and I feel I’m so alone, I just call and you are there for me. –Pooh’s Lullaby

-         Things have a way of coming together whenever friends are around. –Pooh

-         With a friend, any day is an adventure. Any song becomes a symphony. –Pooh

-         You’re braver than you believe, stronger than you seem, and smarter than you think. –Christopher Robin

-         All good things come to an end. –Eeyore

-         The thing that makes me different are the things that make me ‘me’. –Pooh

-         I guess I could still watch the clouds roll by make a wish on a shooting star.

-         Love is taking a few steps backward, maybe even more, to give way to the happiness of the person you love. –Pooh

-         When we work together, things are always better. –Pooh

-         I wanna be with you forever. I want you right here beside me forever

-         You can’t stay in your corner of the forest, waiting for others to come to you; you have to go to them sometimes.

-         I tell myself that I am not afraid. –Piglet

-         Pooh: “Have you ever had one of those days when you just can’t win, Eeyore?” | Eeyore: “Yup, I know how that feels.”

-         Home is the comfiest place to be. –Pooh

-         “How do you spell ‘love’?” – Piglet
“You don’t spell it…you feel it.” – Pooh”

-         “Piglet sidled up to Pooh from behind. “Pooh?” he whispered.
“Yes, Piglet?”
“Nothing,” said Piglet, taking Pooh’s hand. “I just wanted to be sure of you.”

-         “Do you really want to be happy? You can begin by being appreciative of who you are and what you’ve got.”

-         “You are braver than you believe,
Stronger than you seem,
And smarter than you think(:”

-         Well, even if I’m in the moon, I needn’t be face downwards all the time.

-         Where should they dig the Very Deep Pit? Piglet said that the best place would be somewhere where a Heffalump was, just before he fell into it, only about a foot further on.

-         Before Piglet could think, Pooh answered for him. “He’d come and live with me,” said Pooh, “wouldn’t you, Piglet?” Piglet squeezed his paw. “Thank you, Pooh,” he said, “I should love to.”

-         Don’t underestimate the value of Doing Nothing, of just going along, listening to all the things you can’t hear, and not bothering.

Drama “DESEMBER MENANGIS”

DESEMBER MENANGIS

 942479_659771730706977_2031670319_n

 

Pemeran 13  Orang

Pemeran Utama                    :

1.  Marie

2. Firsya

3. Fathan

 

Pemeran Pendukung                        :

1. Shena

2. Rachel

3. Bulan

4. Bintang

5. Ibu Marie

6. Ibu Chaterine

7. Jubah Hitam

8. Angel Putih

9. Angel Merah

10. Narator (Ala detektif)

 

 

BAGIAN 1 (FLASH BACK)

Ketika rasa sesak menyeruak membebani hati, jiwa tersiksa dengan keadaan yang ada.  Tangan, mulut, mata, telinga, dan bahkan diri tak bisa memenuhi apa ingin dan apa yang menjadi bahagia dirinya, seakan semua pintu kebahagian telah tertutup dengan penyesalan dan rasa bersalah.

 

Suatu malam tepat di tengah kegelapan terlihat sesosok perempuan sedang duduk dengan kaki yang tertekuk dengan rambut, fikiran dan tatapan yang tak lagi karuan. Jiwanya terguncang, dia tertawa namun tawa itu bukan karena bahagia. Lalu diam, diam itu bukan karna sedang merenung. Tatapan yang menggambarkan kekosongan. Kemudian ia menangis, tangisan itu seakan menggambarkaan kesedihan alangkah malang dirinya kini.

 

Marie   :“Na na na na na na  na” (Berlagu tak karuan). Aku ingin ke surga tuhan, Ahahahah! (Berteriak dengan muka murung kemudian tertawa).

 

Datang Sosok Jubah Hitam

Jubah Hutam   :“Hei manusia malang, lihatlah dirimu sekarang !

Marie               :“A..aa..aapa kau? Kau. Kau? Kau datang lagi?” (Terbata ketakutan)

Jubah Hitam    :“Dalam kegelapan yang mencekam, aku akan datang untukmu”

Marie               :“Untuk apa?” (Mundur)

Jubah Hitam      :“Demi rasa sakit, demi amarah, demi dendam. Aku akan berdiri hanya untukmu, untuk dendam itu. Atas nama dendam bukan atas nama cinta”.

Marie                 :“Pergiiii !!” (Menangis ketakutan dan berteriak sambil meremas rambutnya)

Jubah Hitam      :“Takkan berguna tangis itu. Dan jika engkau tetap menangis, aku akan menegakkan kepalamu tinggi-tinggi. Aku akan selalu berada disisimu. Dan aku akan menjadi malaikat pencabut nyawamu. Di taman kegelapan yang sepi dan sunyi”.

Marie                           :“Tidaaaaak. Siapa kau sebenarnya?

Jubah Hitam    :“Kau tak tau aku?”

Marie                           :“Tidaaak! Aaaarghh pergi kau. (Melempar barang)

Jubah Hitam    :“AKU ADALAH RASA BERSALAHMU! (Mengangkat dagu sigila).

Tubuh marie menggigil, segala kenangan buruk tergambar di benaknya, dia berteriak, meremas kepalanya, mencakar tubuhnya, membenturkan kepalanya, ia ingin menepis segala kenangan buruk. Tubuhnya menggigil meronta ketakukan.

 

Angel Merah   : “Hai anak manusia, aku kasihan melihatmu seperti ini, kau sudah terlalu lama menangis, kemari ikutlah denganku”

Marie               : “Aaaaaaahhhhh. Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin ke surga tuhan”

Angel Putih     : “Sesungguhnya surga akan menantimu Marie, jika saja kamu mau bertobat dan bersungguh di jalanNya”

Angel Merah   : “Marie,ayo ikutlah ke surga bersamaku. Surga adalah tempatmu bukan disini. Tak ada satu orang pun yang peduli denganmu disini, lebih baik kau ikut aku. Ikutilah apa yang aku katakan kepadamu, maka kita akan sampai ke surga. Percayalah”

Angel Putih     : “Tidak Marie, jangan dengarkan itu, kau sudah terlalu jauh. Kembalilah, sesungguhnya dia hanyalah iblis yang  menginginkan kamu jatuh kedalam lembah dosa”

Angel Merah   : “Jangan dengar dia Marie,, kau akan lebih bahagia di kehidupan kedua nanti, akan kujadikan kau ahli surga kelak”

Marie               : “Surga? Surga? Hahahahaha! Ya surga.

Angel Merah   : “Ya meri iya.

Angel Putih     : “Tidak Marie, Jangan. Jangan. Sadarlaaahh.

Marie               : “Aku akan menyusul kalian teman-teman” (Sambil mengambil dan memeluk foto)

Angel Putih     :“Mati bukanlah penyelesaian dari segalanya. Segala sesuatu akan dipertanggung jawabkan kelak. Jika kau fikir dengan mati kau bisa terbebas dari sesuatu yang menghantuimu. Kau salah besar Marie, bertaubatlah.

Angel Merah   :”Tidak Marie, kau lebih baik Mati. Maka kau akan damai.

Marie               :”Tiddddaaaaaaaaaaaaaaakkkk…..! (Berteriak dan meleparkan Photo)

 

Tanpa fikir panjang Marie menggoreskan tangannya dengan pecahan pecahan kaca. Dan Sreeett… darah pun keluar.

BAGIAN 2

Beberapa waktu yang lalu, seorang gadis 16 tahun bernama Marie Shalimar Renggana meninggal bunuh diri di rumahnya. Dia seorang gadis manis tomboy berasal dari Yogyakarta dan tinggal di Jakarta. Lima hari setelah kematiannya, ibunya menemukan buku hariannya di kamarnya. Ibunya ingin mengetahui sebab kematiannya.


29 Oktober 2012

Dear Diary, hari ini hari pertama gue sekolah di SMA Global Mandiri. Pas gue masuk kelas, gue diejek murid2 cowok yang nyebut gue orang aneh. Inilah awal hari yg buruk. Kemudian beberapa murid cewek cantik dan populer ngedatengin gue, terus memperkenalkan diri mereka. Mereka ngatain gue orng terjelek yang pernah mereka temui.Parah bukan?  Gue nangis. Gue terus pulang ke rumah terus menelepon pacar gue Ray. Gue pikir hari ini bakalan jadi lebih baik. Tapi dugaan gue salah.  Dia bilang bahwa hubungan jarak jauh gabakalan bisa bertahan ; sekarang dia tinggal di Yogyakarta. Terus gue bilang, gue mencintainya dan rindu sama dia. Gue lebih kaget lagi diary, dia mengakui bahwa alasan dia pacaran sama gue itu gara gara dia ditantang teman2nya. Dia mutusin hubungan kami padahal kami sudah pacaran selama 2 tahun.


01 Nopember 2012

Morning Nopember, awal bulan baru, lembaran baru.

Gue kangen banget sama Ray. Tapi gue harus move on !

Hari ini seorang cowok populer ngajak gue nongkrong di cafe. Kemudian cewek2 cantik kemarin ngajakin gue  makan siang bareng. Wow !


02 Nopember 2012

Dear Diary, Gue lagi nangis sekarang. Ternyata cowok itu brengsek. Dia numpahin minumannya di baju gue,  lalu cewek2 itu mengoyak baju gue. Semua orang ngatain gue. Sialan, gue dipermalukan.

 

03 Nopember 2012

Gue lagi deket nih sama cowok, lumayan cool, keliatannya sih baik. Guee sukaaaa sama dia diary.

 

11 Nopember 2012

Gue jadian sama Rio Guntara, mudah mudahan dengan adanya dia gue bisa move on dari Ray.

 

18  Nopember 2012

Hari ini hari  minggu kelabu buat gue. Rio brengsek, Rio kurang ajar, ternyata dia cuman jadiin gue bank berjalannya aja. Gue di porotin sama si brengsek Rio, gue juga di tigain.


18  Nopember 2012
Hari ini Sabtu, dan hari ini gue nangis lagi. Ibu bercerai dengan Ayah, tepatnya Ayahlah yang menceraikan Ibu, karena dia merasa bosan dan tak sejalan lagi dengan Ibu. Padahal jelas jelas itu gara gara Ayah punya istri baru, lantas Ibu gue dia campakin gitu aja. Gue masih gak percaya keluarga gue hancur kaya g ini. Gue udah capek nangis. Gue letih. Gue harus tidur.


24 Nopember 2012
Ibu tidak bercerai! Ayah gak pergi! Gak mungkin ! Ini semua cuman mimpi. Hidup gue sempurna.  Ray masih mencintai gue!

 

31 Nopember 2012

Hidup gue hancur setelah Ayah dan Ray pergi dari hidup gue. Mereka yang ngehancurin hidup gue, mereka yang hancurin  masa depan gue. Mereka laki laki yang gue sayang. Tapi enggak buat sekarang, mereka IBLIS. Sekarang gue sadar ternyata semua lelaki itu BAJINGAN. Gue benci cowok!

 

01 Desember 2012

Welcome des. Awal yang baik. Gue punya temen baru namanya Firsya, dia cantik, baik, ramah, pinter dan care sama gue. Gue ngerasa nyaman disamping dia. Dia beda banget sama yang laen.

 

14 Desember 2012

Gue sama Firsya udah makin deket aja, Kemana mana kita berdua udah kaya sendal jepit.

 

 

17 Desember 2012

Fathan Aditya Permana. Cowok itu ……. !

 

19 Desember 2012

Di bawah langit yang menangis ku bawa pulang rasa sakit ini.

 

BAGIAN 3

Jum’at, pukul 16:40. Sore itu Fathan sedang berada di dekat pintu kelas, dia sengaja menunggu Firsya yang  keluar dari kelas. Tak lama kemudian Firsya pun keluar bersama Marie.

Fathan             :“Sa, sory. Gue bisa ngomong sebentar sama lo ga? Ada yang mau gue omongin nih.

Firsya menatap Marie. Dan Marie mengangkat pundaknya sebagai isyarat menyerahkan keputusan kepada Firsya.

Fathan             : “Gimana? Bisa?”

Firsya               : “Yaudah oke deh.

Mer, gapapakan lo hari ini pulang ga bareng gue?

Marie               : “It’s ok.” (Dengan terpaksa dan sedikit rasa kesal)

Firsy                : “Take care sob, bye” (melambaikan tangan)

Marie pun pergi.

Firsya               :“Mau ngomong apa, Tan?”

Fathan             :“Euhh.. euh.”

Firsya               :“Euh euh doang? Ahahaha

Fathan             :“Engga sih, hehe. Gaenak nih ngomong disini, pegel. Duduk dulu mending.

Lalu duduk

Fathan             :”Ok deh. Sya, denger gue baik baik oke”.

Firsya               :“Daritadi juga udah di denger kali”

Fathan             :“Ok. Sya, sejak pertama kali gue kenalan, sering ngobrol, terus jalan sama loe, gue gak tau ya kenapa gue selalu ngerasa nyaman kalo ada di deket loe. Dari dulu gue suka banget liat lo, gue suka gaya lo, cara lo bergaul sama temen – temen, lo gak membeda – bedakan mereka. Dan tanpa gue sadari ternyata tumbuh rasa cinta di hati gue sama lo. Naah, Jujur Sya, gw sayang sama loe.. Loe mau ga  jadi cewek gw? ( Sambil memegang tangan CE)

Firsya               :”Sebenernya gue juga punya perasaan yang sama seperti yang lo rasain . Tapi gimana sama Shena? Bukannya dia itu ngebet banget sama lo? Apa jadinya kalo dia tau gue sama lo? Pasti gue jadi bulan bulanan dia Tan.

Fathan             :”Gue tanya lo sya, tanya hati lo. Soal Shena, lo Jangan khawatir, gue bakalan jaga lo. Gabakalan gue biarin dia nyakitin lo seujung kukupun! Gue mohon, jadi pacar gue sya”.

Angel Merah   : “Tolak! Tolak! Tolak! Tolak aja, dia gak begitu kece tuh. Gak banget deh buat kamu. Tolak aja tolak!”

Angel Putih     : “Terima aja terima, dia baik, lumayan kece ko. Ayok terima terima.

Angel Merah   : “Ihh. Tolak! Tolak! Kamu kan cantik, masih banyak cowo kece selain dia, banyak yang lebih baik juga.”

Angel Putih     : “Dia baik dan lumayan kece, gue bilang terima ya terima! (Dengan nada ngotot dan memaksa)”

Angel Merah   : “Ih lo kan angel putih, gue yang angel merah kok lo yang galak sih? Ah pokoknya tolak!”

Angel Putih     : “Eh iya maap maap. Pokoknya terima deh terima.”

Angel Merah   : “Tolak!”

Angel Putih     : “Terima!”

Angel Merah   : “Tolak!”

Angel Putih     : “Terima!”

Angel Merah   : “Tolak!”

Angel Putih     : “Terima!”

Firsya              :”Sssstt…! Emm..Iya.. aku mau”. (Tersipu malu)

 

Saat itu sebenarnya Marie berada dibalik pintu. Tentu saja ia mendengar semua percakapan antar Fathan dan Firsya. Dan *Jedaaarrr* suara petir menyambar, dan diikuti hujan yang turun dengan deras.

Sore itu Firsya pulang dengan Fathan. Hujan lumayan deras, Fathan melepas Jaket yang dipakainya lalu memakaikannnya kepada Firsya. Sementara itu di bawah langit yang menangis Marie pulang dengan membawa rasa sakit hatinya.

 

Desember 21, 2012

“Aku seperti angin, meski hadirku kau rasakan tapi aku tak dapat kau lihat. Sakit, Ku coba sembunyikan luka ini darimu, ku bungkus dengan senyumku agar kau tak menyadari bahwa kau telah menyakitiku”.

 

Waktu menunjukan pukul 07:35. Pagi itu Fathan sengaja datang lebih awal tak seperti biasanya,  namun belum ada siapa pun yang datang di dalam kelas.

 

Tak lama dari itu murid-murid pun bersusulan datang. Gaduh suara murid seakan menjadi hiasan tersendiri di dalam kelas itu. Dan *Teeeeeetttt teeett teeet* Bel sekolah pun berbunyi. Tanda pembelajaran akan dimulai. Hari itu jam pertama dimulai dengan pelajaran B. Inggris.

Ibu Catherine  :“Selamat pagi. Bel pelajaran sudah berbunyi hentikan aktivitas kalian, siapkan untuk pembelaran. Dengar, selama pembelajaran                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              saya berlangsung jangan ada kegiatan tambahan lain yang kalian lakukan. Perhatikan apa yang saya sampaikan dan catat!. Paham?

Murid           :“Pahaaam”

Di tengah pembelajaran berlangsung, ketika Ibu guru sedang menulis di papan tulis Firsya melihat di bawah mejanya ada sesuatu. Karena penasaran ia pun mengeluarkannya dari meja. Dan ternyata …….

Firsya               :“Kyaaaaaa.. Bungaaaa, Coklatt.  Aaaahh ” (Bergumam sendiri)

Marie               :(Melirik dengan ujung matanya menunjukan tidak senang)

Firsya               :“Eh ada suratnya juga” (CE pun membaca sambil senyam senyum sendiri). Yaah, tapi gaada nama pengirimnya.

Firsya melirikan pandangannya ke arah Fathan. Dan ternyata Fathanpun sedang memandang Firsya. Marie memandang tidak suka.

Firsya               :“Jangan jangan dia?. Ah tidak tidak”. (Mencoba menepis)

Marie               :”Sssshht.. suaramu bisa bisa menggemparkan kelas, apa kamu mau menjadi santapan makan siang Ibu Chatrine?”

Firsya               :“Gila lo, ya enggalah”

Tibi tiba… *PLUUUK* Segulung kertas jatuh di meja Firsya lalu diapun membuka dan membacanya.

Semoga kamu menyukai bunga dan coklatnya”

 

Namun ketika Firsya itu akan membalasnya lagi, kertas yang ia lemparkan melebihi tempat duduk Fathan, dan terkena kepala Ibu Chatrine yang sedang menulis di papan tulis.

Ibu Chaterine  :“Siapa yang berani melempar kepala saya?!” (Membalikan badan dengan muka yang menyeramkan)

Murid murid ketakukan, tatapan mereka tertuju kepada Firsya.

Ibu Chterine    :“Firsya! Ini perbuatan kamu? (menunjukan gulungan kertas)

Firsya              :“Euh.. Euh.. buu.”

Ibu Chaterine  :“Jawab!”

Marie               :“Bukan. Bukan Firsya yang melakukannnya. Saya tidak sengaja melemparkannya. Maafkan saya”

Firsya              : ( Menatap Marie) ”Apa apaan kamu ini?”

Marie               :“Ssst…. Udah gak apa-apa”. (Sedikit berbisik)

Ibu Guru         :”Kurang Ajar kamu. Sekarang kamu kesini, berdiri di depan angkat kaki sebelah, jewer kedua telinga kamu sampai jam pelajaran saya selesai.

Marie pun di hukum di depan kelas. Firsya menundukan kepalanya merasa bersalah.

Bel pun berbunyi *Teet teett Tet*

Ibu Caterine    : “Baik, jam pelajaran sudah berakhir. Terimakasih selamat siang.”

Marie               : “Eh bu, saya ini gimana bu?

Ibu Caterine    : “Kamu boleh duduk! Mari anak anak see you next time.”

Murid              : “See you”

Firsya               :“Maafin gue ya soal tadi pagi”

Marie               : “Iya gapapa kali kalem aja”.

Firsya              : “Tapi gue gaenak sama lo, kenapa lo mau ngelakuin itu ke gue?”

Marie               : “Gue pengen nolongin lo aja.

Firsya              : “ Tapi kaan….”

Marie               : “Udah ah gausah lebay. Oiya pa bambang ga bakalan masuk hari ini loh, cuman ada tugas yang harus dikerjain di LKS, sekarang mending lo ngerjain gih. Gue kekantin dulu, lo udah sarapan belumm? ”

Firsya              : “Belum sih”

Marie               : Yaudah biar sekalian gua bawain ntar. Kalo gitu gue ke kantin dulu oke?

Di sudut yang lain

Rachel, Shena, dan si kembar Bulan, Bintang sedang berbincang bincang.

Rachel             : “Duh Shen, lo dari tadi Nyisiiiiiiirr mulu, Dandaaaaaan mulu. Empet gue liatnya”

Shena              : “Biarin dong secara gue kan pengen terus menambah pesona gue, biar pangeran Fathan gue tergila gila dan ga pindah ke lain hati. Bener gak dayang dayangku?”

Bulan+Bintang:“That’s Right Princess” (Dengan nada yang sama)

Shena              :”Cakep !” (Mengacungkan Jempolnya)

Rachel, tolong dong cermin gue”

Rachel             :“Ok my princess, ini dia cermin ajaibnya” (Dengan nada yang sedikit mengejek)

Shena              : “Wahai cermin ajaib, siapakah perempuan tercantik di dunia ini?”

Bulan+Bintang: “Princes Shena Carolina”

Shena              : “Siapakah yang paling kuat di dunia ini?”

Bulan+Bintang: “Princes Shena Carolina”

Shena              : “Siapakah yang paling hebat di dunia ini?

Bulan+Bintang: “Princes Shena Carolina”

Shena              : “Siapakah yang paling pantas menjadi pacar My Baby Fathan?

Bulan+Bintang: “Princes Shena Carolina”

Rachel             : “Siapakah yang paling pantas menikah dengan Budi Anduk?

Bulan+Bintang: “Princes Shena Carolina”

Rachel             : (Tertawa)

Shena              : “Apa? (Terkejut dan mengatakan dengan nada yang tinggi)

Bulan              : Eh, maksud saya… yang pasti bukan anda Putri (dengan nada takut)

Bintang           : “Eh iya maksud saya begitu”

Shena              : “Huu dasar kalian, gue kan maunya juga sama My Baby Fathan, bukan Budy Anduk. Wahai cermin ajaib, kita cocok kan?”

Rachel             : “Mohon maaf Princess Shena Carolina Atmajaya Sukma Permana yang paliiiiiiiiiiiiiiiiiing

Bintang           : Cetar membahana badai mempesona halilintar memukau seluruh jagat raya perut bumi pun meledak melewati garis katulistiwa melayang di cakrawala bagaikan bulu mata princess… dan terpampang nyata

Rachel             : Sepertinya anda kurang beruntung. Fathannya udah jadi punya orang lain tuuh. Coba lagi ya, jangan menyerah” (Nada meledek)

Shena              : “Apa? Siapa yang lo maksud?”

Bulan+Bintang: “Apa? Siapa yang lo maksud?” (Mengulang perkataan Shena)

Rachel             : “Firsya Khansa Aulia, dari kalangan bangsawan, berparas cantik, baik hati dan tidak sombong, rajin menabung, disayang orang tua, daaaaaaaann paliiiiing bijaksana”

Shena              : “Benarkah itu cermin?”

Bulan+Bintang: “Benar putri”

Shena              : “ Uuuukhh. Tidak bisa dibiarkan!”

Shena menghampiri Firsya

Firsya              : (Sedang mengerjakan tugaas)

Shena              : “Heh lo cewe tengil, bener lo jadian sama My Baby Fathan?”

Firsya              : “Apaan sih?” (Tidak menggubris)

Shena              : “Lo budek? Apa bego?

Firsya              : “Terserah. Pllis deh Shen, gue lagi ga mau ribut, gue lagi ngerjain tugas.

Shena              : “Sok sibuk banget sih lo ! Sini mana gue liat (mmengambil kertas yang di tulis Firsya)

Firsya              : Shen, balikin shen. Jangan rusak tugas gue. Balikin sini. (Merebut)

Shena              : Argh ! Penting buat gue? (merobek kertas itu).

Ups sory ga sengaja. Nih lo benerin aja sendiri nih.

Firsya              : Lo ya, jahat banget sama gue, padahal gue gak pernah jahatin lo!

Shena              : Pikir aja sendiri (acuh tak acuh).

Firsya meneteskan air mata

Shena              : Uuuhhh nangiiss, cup cup cup. Sana gih bilang ke cowok lo! (Mengangkat dagu Firsya)

Rachel             : “Wah gawat shen, gawat”

Lalu Marie pun datang dengan membawa makanan di tangannya. Ia kaget melihat Firsya menangis.

Marie               : “Lepas! Waah nyari masalah lo sama gue, lo apain Firsya? Ha?!

Shena               : Siapa juga yang nyari masalah sama lo? Gausah ikut campur, lo siapanya Firsya? Babunya?

Bulan              : OMG , mau maunya ya lo di jadiin babu sama si Firsya.

Marie               : Heh, ngomong di jaga dong,

Shena               : “Kenapa? Gasuka? Emang bener kan lu babuna si Firsya, kemana mana lo ngintilin dia. Nah sekarang itu liat apa yang lo bawa? Makanan? Makanan buat si Tengil ini kan?

Bulan              : “Tuh kan bener babu.

Bintang           : “Atau kalo engga, jangann jangan lo suka ya sama si si Firsya, secara lo kan tomboy, ya jangan jangan lo jeruk makan jeruk *Upss*

Rachel             : “Uuhh takuuuuttt (Mengejek)

Marie               : “Kurang ajar ya lo pada, biar gue kasih pelajaran”

Firsya               : “Udah udah cukup cukup. Biarin mereka

Marie               : “Tapi mereka kurang ajar banget”

S+BB+R         : “Wihhh marahh, Atuuutt yua ah cuuss. Hiii”

Shena               : “Awas lo ya. Masalah kita belum selesai!”

Rachel             : Makanya jangan nyari masalah sama shena, shena itu bisa ngelakuin hal yang lebih jahat lebih dari ini. Bahkan lebih dari yang lo pikirin.

 

BAGIAN 4

Desember 27, 2012

Kekecewaan yang berubah menjadi dendam…

Membawa pergi seluruh hati nurani…

Yang ada kini hanya sepi…

Sepi yang bertaburkan luka…

 

Setelah Firsya mempunyai pacar, dia sering menghabiskan waktunya bersama Fathan pacarnya. Firsya mulai jarang pulang bersama dengan Marie. Setiap Marie mengajaknya pulang bersama, belajar bersama, ataupun sekedar hunting bareng, Firsya selalu menolaknya dengan alasan sudah ada janji dengan Fathan. Marie sering kali kesal, dan marah gara gara hal tersebut.

 

Sebelum pulang sekolah

Marie               : “Sya, salah ga sih kalo kita suka sama sahabat sendiri”

Firsya               : “Sekedar suka? Bukan cinta kan?

Marie               : “Lebih dari Cinta sya”

Firsya               : “Wihh lo lagi jatuh cinta yaa? Ya kalo menurut gue sih jangan sampe deh Mer lo suka sama sahabat sendiri soalnya nih ya, itu bisa ngerusak hubungan pertemanan kalian. Ya walaupun yang namanya cinta gabisa kita halang.

Marie               : “Lo bener sya”

Firsya               : “Seandainya kita suka sama co sahabat sendiri, apa yang harus kita lakuin mer?

Marie               : “Euhh yaa…. Yaaa kata lo tadi sya kan cinta gabisa kita halang”

Firsya               : “Terus kalo lo kaya gitu, lo mau tetep suka sama co sahabat lo sendiri?

Marie               : “Euhh…

Firsya               : “Lo kenapa sih? Aneh gitu?

Marie               : “Aneh? Ah engga.” (Gugup)

Firsya               : “Serius mer. Terus kenapa ya setiap gue lagi sama Fathan atau lagi ngomongin dia, gue suka ngeliat raut muka lo itu kaya nunjukin gasuka. Apalagi akhir akhir ini gue ngerasain banget itu Mer. Kenapa sih?

Meri                 : “Ah lo apa apaan sih? Perasaan lo doang kali.

Firsya               : “Gue pengen banget percaya sama apa yang lo omongin mer, tapi mata lo ga bisa boongin gue. Kalo iya ngomong mer sama gue. Gue gamau ada salah paham diantara kita. Lo sama gue udah temenan lama, gue gamau hancur gara gara urusan co”  Apa mungkin lo suka sama Fathan? (Gumamnya dalam hati)

Meri                 : “Aduh sya, lo jangan berfikiran  bodoh deh. Euh yaudah sya bukannya lo mau kumpulan? Buruan gih ntar telat”

Firsya              : “Mer jangan jangan lo suka ya sama Fathan?

Marie               : “Engga sya, udah gih buruan entar telat.

Firsya               : “Yaah lo. Oke deh mer, gue masuk dulu ya. Bye !

 

Desember 28, 2012

Dibalik dadaku bukanlah hati yang pasrah. Yang dindingnya berhias kalimat-kalimat rela
Dibalik dada ini ada perasaan tercabik dan terbakar. Yang asapnya menjadi dendam

 

Keesokan harinya di Jam Istirahat

Marie               : “Sya, hari minggu kita jadi jalankan?”

Firsya               : “Duh, sory Mer kayaknya gue kabisa deh, gue mau nemenin Fathan ceck up”

Marie               : “Ok deh, gapapa. By The Way kita ke Perpus yuk sya”

Firsya               : “Gue lagi nunggu Fathan dulu Mer”

Marie               : “Kita ke kantin deh yuk sya. Yuk ah, gue laper nih”

Firsya               : “Engga ah. Lo duluan aja, biar gue nanti aja bareng sama Fathan”

Marie               : “Yaudah, kalo gitu anterin gue ke toilet dong. Kebelet nihh”

Firsya               : “Guee lagi nunggu Fatahan Marie”. (Dengan nada yang sedikit kesal)

Marie               :  “Yaudah deh gue sendiri aja. Eh tapi ntar pulang bareng gue ya. Gamau tau, lo gaboleh nolak, gaboleh banyak alesan titik.

Firsya               : “Tapi gue mau bareng sama Fathan Mer! (Membentak)

Marie                 : “Fathan lagi fathan lagi, terus aja lo sebut sebut nama dia. Gue muak tau gak? Lo jadi berubah semenjak lo jadian sama dia, lo gak kaya Firsya yang dulu! Lo jauh berubah. Dan gue kecewa sama lo!

Firsya                : “Yabukan gitu juga Mer, lagian pulang sekolah kan gue ada urusan dulu, jadi gabakalan bisa bareng sama lo.

Marie                 : “Terserah! Sejak kapan lo ga pernah terbuka sama urusan urusan lo? Denger sya. Gue kangen dan gue pengen Firsya yang dulu, yang slalu ada buat gue dan terbuka. Bukan Firsya yang sekarang” (Marah, lalu meninggalkan firsya)

 

Sejak itu sampai jam Pulang sekolah Marie menghilang tidak menampakan dirinya. Tak ada satupun orang yang mengetahui kemana Marie pergi.

Sepulang sekolah

Sore itu Firsya pulang sore, sekolah terlihat sangat sepi. Tiba tiba Kriiiiinggg…

*Telepone*

Fathan               : “Sya dimana? Gue nunggu di tempat parkir ni”.

Firsya                : “Iya oke gue lagi di kelas nih, tapi gue kebelet. Gue ke toilet dulu ya tan. Bentar koo ya?”

Fathan               : “Yaaudah buruan ya sya, jangan lama lama soalnya takut hujan sya. Gue gamau lo keujanan”

Firsya                : “Iya oke Fathaaaaaan”

 

Firsya pun berniat pergi ke toilet. Namun tiba tiba, seseorang menerkam dirinya dari belakang.

Firsya                : “Aaaaaaaaaaaaaa! (Menjerit)

Fathan               : “Haloo sya? Haloo? Haloo? Firsya? Firsya lo kenapa? Ada apa?

*Tiba tiba telephone terputus*

Firya di seret dimasukan dan di sekap di sebuah gudang dengan tangan dan mulut yang diikat.

Firsya                : “Lepaassss. Lepasin! (berteriak tidak jelas karena mulut yang diikat)

???????????       : “Diam kau!

Firsya                : “Lo siapa? Lepaaassin gue” (Hanya bisa menangis, dan berharap ada seseorang yang dapat menyelamatkan dirinya)

???????????       : “Sepertinya kita memang telah di takdirkan sebagai musuh dalam peperangan. Peperangan yang akan menjatuhkan beberapa nyawa.

Walaupun sebenarnya aku tak kuasa berperang denganmu. Sejujurnya, Aku takut hari ini, aku takut kau hanyut dalam gumpalan darah peperangan yang ku buat.

Apa harus aku tumpulkan saja pisaunya biar kau tak terluka, atau aku serahkan saja tubuh ini dan membiarkanmu menusuknya, agar aku saja yang hanyut kedalam gumpalan darah peperangan ini”.

Firsya                : “Apa maksudmu? Apa kau ingin membunuhku? Tapi siapa dirimu?

???????????       : “Cinta itu pembuka hati. Tidak ada pembenci yang mampu tetap menjadi pembenci, jika cinta memasuki hatinya. Tapi ternyata lebih mudah membenci daripada mencintai. Itu sebabnya, luka cinta bisa menghasilkan dendam yang paling membakar.

Firsya                : “Siapapun lo, gue mohon pliss lepasin gue ! Kalo gue pernah lakuin salah ke lo Ok gue minta maaf, tapi tolong gue mohon jangan siksa gue kaya gini.

???????????       :  “Bersikap manislah, jangan membuatku marah. Karna aku tak ingin menyakitimu”

Firsya                :  “Apa lo bilang? Kaya gini gukan nyakitin gue? Buta lo! Gue bakalan lo bunuh, masih bisa bisa nya ya lo bilang lo ga nyakitin gue?

???????????       : “Aku takkan membunuhmu kecuali kau sendiri yang memintanya”

Firsya                : “Gila lo! Gapunya otak! Manusia macam apa? Dasar gapunya hati!

*Plaaaaaaakkkkk pipi Firsya di tampar*

???????????       : “Ahahaha berani kamu? Kubilang jangan paksa aku nyakitin kamu Firsya”

Firsya                : “Lo udah nyakitin gue bodoh!

????????            : Sakit? Kau tak tau bagaimana rasa sakit? Yang seperti itukah yang kau bilang sakit? Bagaimana dengan luka dalam hatiku Firsya?

Firsya                : “Omong kosong! Toloooooooooooooong…. Lepasin guee!

???????              : “Diam kau! Kubilang diam! Bersikap manislah didepanku saat ini, jangan memaksaku untuk menyakitimu, kupastikan Ibu Perimu takan datang kesini.

Firsya                : “Ibu peri? Marie maksudmu?

?????????          : “Ya. Bukankan dia yang selama ini melindungimu? Dan sekarang dia takan datang unutuk mu. Dia sakit hati olehmu. Kau telah menjadi Pecundang Firsya.

Firsya                : “Shena! Kau kah itu? Sebenci itukan dirimu kepadaku? Apakah kau Shena? Shena! Shena.. (Berteriak memanggil)

Sosok bertopeng hitam itu beranjak meninggalkan Firsya. Kemudian dia menggeret Shena masuk.

Firsya                : “Ya Tuhan, shena. Jika yang diikat itu Shena? Lalu siapakah dia?

???????              : Hahahahaha (Tertawa puas)

Firsya                : “Apa yang akan kau lakukan kepada Shena? Lepaskan dia!

???????              : “Kenapa kau ingin dia lepas? Bukankah selama ini dia dan para antek anteknya lah yang selalu membuatmu menderita. Dia lah yang selalu membuat air matamu terjatuh, dan diapulalah yang selalu membuatmu merasa sakit. Dan sekarang, aku ingin dia merasakan sakit yang selama ini dia lakukan kepadamu. Malam ini kau yang akan menjadi saksi pembalasan dendamku.

 

Leher Shena dicekik dengan kuat oleh sosok bertopeng itu. Dalam hitungan menit tubuh Shena ambruk, lalu tergeletak di lantai.  Firsya terkejut dan ketakukan. Firsya mulai berfikir dan dia mengerti arah ucapan sosok hitam itu, mendengarkan suaranya dengan seksama,  mencoba menebak siapa sosok yang berada di depannya.

 

Firsya                : “Jika memang bencimu itu terlampau besar, aku mohon maafkan aku. Tanpa kemampuan untuk memaafkan, hidupmu akan dikendalikan oleh lingkaran setan  rasa kebencian dan dendam.

?????????          : “Diam kau jangan lancang mengguruiku! Ya aku memang telah dikendalikan setan karna benci dan dendam ini. Dan itu semua karna kau!

Firsya                : “Pantas saja. Setan apa yang telah merubahmu menjadi seperti ini. Kemana logika dan akal sehatmu? Ku fikir kau orang baik. Kau tulus berteman denganku. Tapi Ternyata kau tak lebih dari sampah. Kau keparat yang selama ini menutup kemunafikan dirimu dengan topeng.

 

Perlahan sosok bertopeng itu membuka topeng yang dipakainya. Dan Brughhkk… suara dobrakan pintu terdengar dan ternyata itu adalah  Fathan. Firsya dan Fathan pun terkejut ternyata sosok itu adalah Marie yang tak lain adalah sahabat mereka sendiri.

 

Fathan               : “Apa yang kau lakukan Marie, setan apa yang telah merasukimu seperti ini?”

Marie                 : “ Setan berdarah yang berwujud manusia yang berkelebat penuh rasa iri yang telah merubah hati menjadi belati”.

Firsya                : “Pergii Fathan pergiiiii. Kau harus pergi.

Fathan               : “Ya tuhan, Sadar Marie sadar. Apakah kau ingin sahabatmu menjadi darah di tanganmu?

Marie                 : “Kau yang masuk ke ruangan setan ini. Artinya kau pulalah yang menginginkan aku untuk menjadikanmu darah”.

Fathan               : “Lihat Marie, sosok yang tergeletak itu. Kau sudah putuskan harapan hidupnya, kau rampas masa depannya. Janganlah kau diperbudak oleh kebencian dan dendam.

Marie                 :  (Tersungkur dan menjerit)

Fathan               :  “Lihat orang yang duduk disana. Bukankah dia orang yang telah menguatkanmu selama ini? Dia sahabat mu. Lantas inikah yang bisa kau balas atas kebaikannya? Coba kau fikir kesalahan apa yang telah ia perbuat kepadamu?

Mariee               : (Tersungkur, menangis dan menjerit) Bodohh. Gue bodooohh

 

Fathan mencoba mengalihkan perhatian Marie agar bisa melepaskan Firsya. Tiba tiba…

 

Marie                 : “Tapi dialah yang telah menanamkan dendam ini! (Berbalik dan menunjuk Firsya)

Firsya                : “Katakan apa kesalahanku?”

Marie                 : “Kau terlalu naif. Kesalahanmu adalah tak pernah mengerti perasaanku Firsya. Aku muak melihat kau bersamanya!

Firsya                : “Jadi kau mencintainya”?

Marie                 : (Berteriak) Aaaaaaaaaa aku benci semua ini. Dan kau!

 

*Cleeeb* Pisau menusuk di perut Fathan.

 

Fathan               : “Aaaahh” Fathan menahan sakit.

Firsya                : ( Merngkul Fathan yang penuh daarah yang terkapar)

Marie                 : ( Langkahnya mundur, kaget)

Fathan               : “Sya, mungkin sampai disini rasa saling mencintai kita”

Firsya                : “Kenapa kau berkata seperti itu?” (Dengan air mata yang semakin deras)

Fathan               : “A k u tak kuasa menahan nafas yg tersisia dan rasa sakit ini. Mungkin ini sudah saatnya aku harus menjadi gumpalan darah.

Firsya                : “Jangan bicara seperti itu, aku mohooon, aku tak ingin kau menjadi darah”

Fathan               : “Aku tak bisa Firsya, ini permintaan terakhirku, peganglah tanganku, jangan kau lepaskan sebelum nyawa ini ku lepaskan”

Firsya                : “Kenapa Fatahn kau bunuh? Bukankah kau mencintainya? Dan lihat! Apa sekarang kau puaas, kau berhsil menjadikannya darah, tertawalah !” (Menangis sambil bertiriak teriak kepada Marie).

Firsya                : “Sekarang tinggal kita berdua, kau dan aku. Kenapa tak kau jadikan aku darah Marie? Agar kau dan setan setanmu bisa tertawa puas.

Marie                 :”Kau salah Firsya, aku tak mencintai Fathan. Kau salah besar! Biarlah aku membunuhnya, aku tak ingin melihatnya hidup.

Firsya                : “Katakan padaku kenapa?

Marie                 : “Karena aku mencintaimu ?”

Firsya                :”Apaa? Sakit ya lo! Bener bener sakit lo Mer!

 

*Plak* Pipi Marie ditampar Firsya. Dan tak sengaja tangan Marie yang sedang memegang pisau terayun dan menghantam perut Firsya. Sehingga membuat Firsya tersungkur dengan kepala yang tergeletak di dada Fathan dengan darah yang keluar dari perutnya.

Marie                 : “Aaaaaaaaaaaaaaa” (Menjerit seakan tak  percaya, lalu menangis, lau tertawa)”

Jerit tak percaya Marie menggema di ruangan yang sunyi dan hampa yang memerah penuh gumpalan darah, saat orang yang di cintainya kini pergi, hanyut menjadi gumpalan darah di lantai yg memerah!

 

BAGIAN 5

Di Kamar Marie

*Menulis*

 

Ayah, Ibu..

Aku rindu hangatnya kasih sayang keluarga yang dulu pernah kurasakan, namun sekarang semua menghilang. Terima kasih atas materi yang kalian berikan. Materi yang berlimpah untukku, namun yang ku inginkan bukan hanya sekedar hal material, tapi juga kasih sayang yang lebih dari kalian. Bukan keributan yang terjadi dirumah, dirumah yang seharusnya menjadi surga untukku..

 

Dengarkan, dengarkan suara rintihan hatiku.. Aku butuh kalian untuk menemani ku. Aku butuh dukungan dan dorongan dari kalian. Aku butuh kalian untuk meluruskan jalanku ketika aku melenceng Kenapa kalian tidak kembali menjadi keluarga yang indah seperti dahulu kala? Kembalilah. Semenjak kalian berpisah, duniaku hanyalah sahabatku. Namun, DikaLa sahabat tak bisa dibanggakan, malah terkadang menoreh luka di hati. Tapi tetap mereka duniaku, dunia yang menenggelamkan ku pada rasa yang tak wajar ini. Aku mencintai Firsya bu. Bolehkah itu bu? Apakah tuhan tidak akan marah? Kalian tak tahu  semua isi hati ku. Kalian tak  mengerti tatkala hati ini meronta kesakitan karna rasa ini. Aku mencintainya bu, aku tak ingin pria. Mereka bajingan.Mereka yang menghancurkan hidupku.

 

Aku dan Firsya. Aku ingin suatu saat nanti kita bersama sama menjadi gumpalan darah.

Tapi aku sudah terlebih dulu menjadikan Firsya gumpalan darah bu, Aku membunuhnya! Menbunuh Fathan dan juga Shena.Buuuu. Akankah tuhan marah kepadaku?

 

Desember ini menangis bu. Menangis karena luka dan duka yang telah kutorehkan. Ayah, Ibu… aku merasa lelah,  aku tak sanggup lagi. Bukan ini yg kuinginkan.
Bukan kekecewaan, kekesalan, kecemburuan, rasa iri, dengki, amarah, nafsu & kebingungan. Melainkan suatu sisi yg indah. Saat aku bisa membagi diriku dalam 2 fase yg berbeda.
Ayah, Ibu. Masihkah aku bisa bahagia dengan semua kpiluan ini? Sanggupkah aku tertawa disaat luka menghampiri. Tangisan cinta ini smakin kuat kurasa. Goresan luka ini semakin sakit ku nikmati. Tak ada penawar yang mampu mengobatinya. Tak mampu aku meloloskan diri dari kepungan sepi. Kini aku terjerat pada tikaman dusta. Menderu lukaku yang tiada tertahankan lagi.

Maafkan aku bu, ayah. Aku tak sanggup.

 

Marie   :“Na na na na na na  na” (Berlagu tak karuan). Aku ingin ke surga tuhan, Ahahahah! (Berteriak dengan muka murung kemudian tertawa).

Datang Sosok Jubah Hitam

Jubah Hutam   :“Hei manusia malang, lihatlah dirimu sekarang !

Marie               :“A..aa..aapa kau? Kau. Kau? Kau datang lagi?” (Terbata ketakutan)

Jubah Hitam    :“Dalam kegelapan yang mencekam, aku akan datang untukmu”

Marie               :“Untuk apa?” (Mundur)

Jubah Hitam      :“Demi rasa sakit, demi amarah, demi dendam. Aku akan berdiri hanya untukmu, untuk dendam itu. Atas nama dendam bukan atas nama cinta”.

Marie                 :“Pergiiii !!” (Menangis ketakutan dan berteriak sambil meremas rambutnya)

Jubah Hitam      :“Takkan berguna tangis itu. Dan jika engkau tetap menangis, aku akan menegakkan kepalamu tinggi-tinggi. Aku akan selalu berada disisimu. Dan aku akan menjadi malaikat pencabut nyawamu. Di taman kegelapan yang sepi dan sunyi”.

Marie                           :“Tidaaaaak. Siapa kau sebenarnya?

Jubah Hitam    :“Kau tak tau aku?”

Marie                           :“Tidaaak! Aaaarghh pergi kau. (Melempar barang)

Jubah Hitam    :“AKU ADALAH RASA BERSALAHMU! (Mengangkat dagu sigila).

Tubuh marie menggigil, segala kenangan buruk tergambar di benaknya, dia berteriak, meremas kepalanya, mencakar tubuhnya, membenturkan kepalanya, ia ingin menepis segala kenangan buruk. Tubuhnya menggigil meronta ketakukan.

Iblis datang dengan segala rayuan nya.

 

Angel Merah   : “Hai anak manusia, aku kasihan melihatmu seperti ini, kau sudah terlalu lama menangis, kemari ikutlah denganku”

Marie               : “Aaaaaaahhhhh. Aku lelah dengan semua ini. Aku ingin ke surga tuhan”

Angel Putih     : “Sesungguhnya surga akan menantimu Marie, jika saja kamu mau bertobat dan bersungguh di jalanNya”

Iblis                 : “Marie,ayo ikutlah ke surga bersamaku. Surga adalah tempatmu bukan disini. Tak ada satu orang pun yang peduli denganmu disini, lebih baik kau ikut aku. Ikutilah apa yang aku katakan kepadamu, maka kita akan sampai ke surga. Percayalah”

Angel Putih     : “Tidak Marie, jangan dengarkan itu, kau sudah terlalu jauh. Kembalilah, sesungguhnya dia hanyalah iblis yang  menginginkan kamu jatuh kedalam lembah dosa”

Angel Merah   : “Jangan dengar dia Marie,, kau akan lebih bahagia di kehidupan kedua nanti, akan kujadikan kau ahli surga kelak”

Marie               : “Surga? Surga? Hahahahaha! Ya surga.

Angel Merah   : “Ya meri iya.

Angel Putih     : “Tidak Marie, Jangan. Jangan. Sadarlaaahh.

Marie               : “Aku akan menyusul kalian teman-teman” (Sambil mengambil dan memeluk foto)

Angel Putih     :“Mati bukanlah penyelesaian dari segalanya. Segala sesuatu akan dipertanggung jawabkan kelak. Jika kau fikir dengan mati kau bisa terbebas dari sesuatu yang menghantuimu. Kau salah besar Marie, bertaubatlah.

Angel Merah   :”Tidak Marie, kau lebih baik Mati. Maka kau akan damai.

Marie               :”Tiddddaaaaaaaaaaaaaaakkkk…..! (Berteriak dan meleparkan Photo)”

Tanpa fikir panjang Marie menggoreskan tangannya dengan pecahan pecahan kaca. Dan Sreeett… darah pun keluar.

BAGIAN  5 (ENDING)

Demi waktu yang terus berputar dan demi malam yang terus dipenuhi kegelapan
Aku menanti sahabat tercinta didalam gelap. Dalam lorong waktu yang tak lagi berputar

Untuk Ayah, Ibu dan teman teman tolong jangan tangisi kepergianku..
Kirimi saja aku bunga mawar sebagai lambang cinta kalian  padaku…

Kenanglah aku hingga jasatku membusuk, juga kenanglah cintaku yang tak pernah busuk!
Kalian  bisa tenang dalam hidup kalian, sekarang. Maka tersenyumlah demi tidur panjangku.

Salam terakhir, salam kedamaian

31 Desember 2012

Marie Shalimar Renggana

 

Ibu Marie        : “Begitulah yang di tulis Marie dalam Buku Hariannya” (Menutup buku harian Marie sambil berderai air mata”

Rachel             : “Ibu yang tabah ya, kami turut ptihatin”

Bulan+Bintang: ” Iya bu” (Terisak)

Ibu Marie        : “Iya, tapi saya tidak menyangka sedikitpun kalau ternyata Marie memiliki trauma dengan kisah cinta dan  masa lalunya. (Menangis)

Bintang           : “Apa ibu tidak curiga dengan Syndrom Marie yang seperti ini?

Ibu Marie        : “Kalau mengenai Syndromnya saya sama sekali tidak melihat keanehan, hanya saja sikap dia sehari-hari memang berubah, jika ibu membicarakan mengenai teman laki-laki dia selalu masa bodoh dan sensitif”

Rachel             : “Mungkin faktor keluarga dan masalah perceraian itu yang berpengaruh juga terhadap keadaan Pysikis Marie.”

Bulan               : “Tapi kami tidak menyalahkan ibu maupun keluarga ibu. Mungkin ini sudah takdir dari yang Maha Kuasa. Kita hanya perlu mengikhlaskan kepergian Marie, begitu juga dengan Firsya, Fathan, dan Shena.”

Ibu Marie        : “Iya, ibu atas nama keluarga memohon maaf atas kelakuan dan perkataan Marie yang salah selama hidupnya.”

Rachel             : “Kami juga meminta maaf atas kesalahan kami kepada Marie.”

Bulan               : “Maafkan kami ya bu”

Ibu Marie        : “Sudah nak, Marie pun pasti sudah memaafkan kesalahan kalian”

 

SELESAI

 Story By : Nisa Sri Wahyuni

Menyibak Tabir Cerita Bahagia

 

Siapakah engkau gerangan insan penguasa sanubari

Aku tau kau bukan malaikat

Karna kau tak bersayap

Akupun tau  kau bukan seorang dewa

 

Bak semilir angin kau datang

Lewat, dan hembuskan nafas cinta

Kau tundukan hati ,

tanamkan benih cinta dalam jiwa

 

Kubiarkan siang dan malam berlalu

Namun bayangmu itu semakin jelas dalam khayalku

Dan rinduku seakan berlagu

Sukma jiwa menggeliat dan terus teriakan namamu

 

Dikala cinta memanggil

Dengarlah suara hatiku,

Kau insan tuhan yang sempurna

Sang maha cinta tlah takdirkan kita

Tlah takdirkan cintaku bertemu cintamu

 

Dan pertemuan itu

menyibak tabir

Mengungkap cerita

dan mengukir bahagia

 

 

 

Cinta Angin Untuk Sang Bintang

 

Bintang, kau masih yang dulu

kau yang tinggi

Tinggi, terlau tinggi

dan tak dapat kugapai

 

Mungkin aku tak terlihat

dan mungkin aku tak kau dengar

tapi aku bisa kau rasakan

 

Bintang, akulah sang angin

datang meski tak kau inginkan

Bintang, Aku yang tak pernah lelah untukmu

terus berada disekitarmu

meski kau tak pernah tau

 

Tidakkah ini salah?

Sang angin sepertiku inginkan bintang

Seisi dunia tawakan diriku

Sosok yang tak terlihat ini harapkan kau yang bersinar

 

Bintang, jikalah kau bukan miliku

Teruslah kau bersinar hingga menembus diagonal duniaku

Bintang, jikalah aku tak baik untukmu

Akupun akan tetap menjadi aku

Akulah sang angin, Sang Wujud Tanpa bayang

Yang akan selalu hembuskan hawa cinta pada jiwa sang dewa

Hingga nanti,

Hingga waktu yang akan abadikan cintaku

Terlukis indah dalam cerita sejarah