Jeritan Hati SiAnak Kapas.

 

Senja itu menjadi saksi, dimana hari bahagia menjadi lautan penuh duka. Hanya harap yang telah usang yang menjai teman. Bayang gelap menanti sosok terangnya, namun apa daya terang itu tak kunjung datang. Hanya jerit kehampaan dalam jiwa, beban yang menggelayuti pundak Mama, menambah rasa sakit dan sesak yang iya rasakan.

 

Peluh keringat bercucuran, sekuat tenaga iya keluarkan energi yang tersisa. Lelah, sakit. Namun sakit yg ia rasa saat itu tak seberapa dengan sakit yang tertanam jauh dalam lubuk hatinya. Bagaimana tidak?! Di detik detik pertaruhan antara hidup dan mati, Mama tengah berjuang semi sang anak tercinta, sementara suami yang selama ini menjadi dewanya tengah bermandikan Asmara bersama madunya? Derai air mata mengalir sebanyak luka yang mereka torehkan. Mereka, iblis sang penghancur rumahku yg seharusnya menjadi surgaku.

 

Senja itu menjadi saksi lahirnya diriku, saat itu suara Adzan magrib menggema seiring lantunan azan yang di bisikan ke telingaku. Mataku terbuka, tangis membahana ruang. Seakan menambah haru kesedihan. Bagaimana tidak? Serempaknya adzan seolah menyambut kelahiran sang gadis kecil.

 

Saat sang fazar menyambut pagi, mentari yang kulihat hanyalah sosok Mama. Mama yang kulihat sebagai cahaya di siang hari, Mama yang ku lihat bagai senja di sore hari, dan Mamalah satu satunya bintang bersinar yg slalu ku lihat di malam sebelum mataku terlelap.Dan slalu begitu setiap hari.

 

Perjuangan kini sudah dimulai, dimana Mama dan aku harus rela terpisahkan jarak, ruang dan waktu demi memainkan peran masing masing dalam balada kehidupan ini. Ya. Mama dengan peran Single parentnya, dan aku dengan peranku yakni Anak broken home.

 

Semakin hari semakin bertambahnya usia. Mama, kini anakmu sudah dewasa. Gadis kecilmu ini sudah berubah menjadi Puteri cantik. Dulu apalah yang kurasa? Saat itu yang kutahu hanya sekedar sebatang coklat, dan yg kurasa hanyalah manisnya susu dan permen. Tapi kini, aku mengerti akan semua beban yang Mama rasa. Rasa sakit yang dulu, kini jelas bisa kurasakan. Andai aku bisa memilih memutar aku, aku ingin mengurangi beban itu dari dulu.

 

Kuakui, terkadang aku rindu rumah yang menjadi surgaku seperti surganya orang lain.
yang diserta kedua malaikat yang menemaniku, menghiasi hari hariku dengan canda dan tawa. Bukan rumah yang lebih pantas disebut ladang  gersang tanpa tanaman, terlihat lengang, sunyi, senyap, hampa.

 

Salahkah jika aku ingin suasana hangatnya keluarga.
Salahkah jika aku ingin merasakan hangatnya pelukan sang ayah?

Aku menantikan tawa hangat itu, aku menantikan senda gurau itu.

Terkadang aku ingin merasakan kemarahan sang ayah, amarah yang menunjukan kekhawatiran terhadap puterinya. Namun semua itu bagilu bagaikan mengharap bintang yang tak dapat ku raih. Tinggi terlalu tinggi, dan tak dapat kugapai.

 

Dan salahkah aku jiga ingin kau kembali? Kembali seperti dulu memelukku, dan menciumku?

Aku merindukanmu Maaa.. Rindu saat kita berua bersama.

Kini aku seperti kapas, anginlah yang menjadi arah hidupku. Dan berharap nantinya kan bertepi di keindahan.

Kini, aku hanya bisa menantikan kebahagiaan walaupun tak pasti datangnya. Tapi aku percaya bahagia itu akan datang untuk kita ma, Allah sedang mempersiapkannya. Tinggal kita yang menjemputnya atau bahkan kebahagian itulah yang akan datang sendiri menghampiri.  Surat ini kubuat saat aku hanya bisa terdiam dalam keheningan, di tengah perasaan yang membabi buta saat merasakan kehancuran.

Di pojok kamar ku menyendiri, kusampaikan salam, dariku Sianak kapas.

 

 

About these ads

Satu pemikiran pada “Jeritan Hati SiAnak Kapas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s