Kurelakan Pelangiku Pergi.

Kurelakan  Pelangiku Pergi.

Sabtu malam 08 April 2012, waktu tepat menunjukan pukul 22:25. Aku terbangun dari tidur, dengan tatapan yang bias aku mencoba mencari titik fokus penglihatanku, aku menengok kesebelah kanan terlihat Ibu tertidur disampingku dengan bacaan Yassin yang masih digenggamnya  dengan kepala yang terkulai berada disamping tangan kananku yang sedang di infuse.”Ibu.. bu.. ibu..” kugoyangkan tanganku, serentak Ibu terbangun dan terkaget melihatku tersadar dari koma. Terhitung telah dua hari aku tak sadarkan diri dari sejak kecelakaan yang kualami malam itu. “Kamu sudah sadar sayang,,?? Alhamdullillah ya Allah kau belum mengambil satu-satunya malaikat kecilku” isaknya sambil merangkulku. Saat itu aku teringat kepada Rayi, “Rayi,,Rayi bu, Rayi. Bagaimana keadaannya,,??” tanyaku kepada Ibu dengan penuh tatapan ingin tahu. Dengan tertunduk dan terisak “Rayi masih koma sayang, kondisinya masih kritis, kini dia berada di ruang ICU”. Petir menyambarku. Aku terperanjat, dan tanpa membuang waktu aku langsung beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar inap dan berlari mencari ruang ICU tanpa memperdulikan Infusan yang menempel ditanganku. Seorang diri kutapaki lorong-lorong Rumah Sakit, dengan tatapan yang kosong, anganku masih tertinggal  jauh seraya aku menatap jalan didepan tanpa kepastian, imajinasikupun terberai ketika tepat di depan ruang ICU terdengar suara yang mengatakan “Rayi kembali kritis Via, jantungnya kembali melemah, dia terlalu banyak kehilangan darah, dan kepalanya mengalami luka yang cukup parah yang tidak menutup kemungkinan dapat menyebabkan gegar otak. Dokter menyuruh keluarga untuk berada disampingnya, senantiasa untuk melantunkan dzikir mengirimkan doa yang di khususkan untuk dia, karna untuk saat ini satu satunya kekuatan adalah Do’a. Kini dokterpun sudah tak dapat lagi banyak bertindak, untuk saat ini kita hanya bisa mengharapkan Mukjizat dari Allah datang”.

Bak tersambar petir,  tubuhku ambruk, mataku  panas meleleh, air mata pun mengalir tak terbendung lagi. Kutolehkan arah tatapanku mengarah kepada sesosok pria muda tampan, dengan halis hitam dan hidung mancung terbaring kaku di tempat tidur kamar Rumah Sakit. Terlihat di dadanya banyak sekali selang dan kabel yang terpasang, ditangannya pun tak hanya selang infus saja begitu banyak selang yang terpasang di badannya, dengan balutan perban di kepalanya dia tampak terkulai lemah dan tak berdaya.  Tak pernah sedikitpun terlintas dibenakku hal ini akan terjadi menimpa orang yang teramat ku sayangi, ”

“Kenapa harus dia ya Allah,,kenapa,,?” tanyaku dalam hati sambil menangis. Namun Allah berkehendak lain, aku tahu Allah punya rencana dibalik semua ini, tapi semua ini begitu sulit, semua ini begitu pahit untuk kulewati. Tak sempat aku mengucapkan kata yang mungkin dia tunggu, kejadian buruk terlalu cepat menimpanya. Sontak kebahagiaan  yang kurasa saat itu berubah menjadi  kegetiran. Tepatnya hari Kamis, 05 April 2012, saat itu Aku dan Rayi berada di Jalan Raya Bandung, malam itu kita baru selesai menghadiri seminar Persatuan Perawat Indonesia di salah satu gedung pertemuan disana. Aku berada di dalam mobil Honda Jazz miliknya, yang pada saat itu dia juga yang mengendarainya. Saat perjalanan pulang, entah mengapa Rayi  Pada malam itu memberhentikan mobilnya di tengah jalan, lalu ia membawa mobilnya untuki menepi. “Kenapa berhenti disini?” tanyaku kepadanya. Tersenyum, “Ada sesuatu sangat penting yang harus kusampaikan kepadamu”. “Haruskah disini,,? Memangnya tidak bisa kita bicarakan dirumah saja” jawabku. “Aku takut, tak ada waktu dan kesempatan lagi untuk menyatakannya jika aku tak mengatakan ini sekarang juga”. Aku mengangguk. Dia menatap tajam mataku, lalu digenggamnya tanganku saat itu. Rayi berkata “Sivia, lama sudah kita lewati jalan bersama, Inilah lembaran yang kita lalui, jalan tak berujung yang kita pahat dengan jejak langkah, selamanya melangkah seperti cinta yang tak mengenal akhir, yang tak mengenal menyerah, di situ jejak-jejak menjelma taman dan tetirah. Aku hanya mampu melangkah jika bersamamu. Aku hanya mampu bersyukur memandangmu . Jika waktu ku terlalu singkat untuk kulewati denganmu, tawaku terlalu sedikit untukku bagi bersamamu, tapi terlalu sering bahumu kubasahi dengan air mata, ku bebani dengan masalah-masalah ku, tak bisa kuhitung berapa kali lidahku menyayat hatimu, namun kau slalu memberiku nafas saat aku sulit bernafas kau beri aku sayap saat aku sulit untuk terbang, malam ini akan ku katakan bahwa aku menyangimu, aku bukan sekedar ingin menjadi pacarmu, tapi yang ku inginkan adalah lebih dari itu yaitu menjadi suamimu” dengan mengeluarkan Cincin yang bermata kan berlian kemudian dia memberikannya kepadaku. “Bissmillahirrahmanirrohim, malam ini, 05 April 2012 tepat pukul 19:20, saya Muhammad Rayyina Alijabar Hakim bermaksud untuk meminang gadis yang bernama Alzahra SiviatunNisya untuk kupersunting menjdi istriku. Dia tersenyum kepadaku, dengan tatapan tajam yang tertuju kepadaku. Rasa haru menyeruak batinku, anganku melayang saat ku dengar hal itu,  namun saat itu bibirku begitu kelu tak kuasa aku untuk mengucapkan seonggoh katapun kepadanya, air matalah yang mewakili perasaanku saat itu, saat dimana mulut tak dapat berucap. Hatiku mengakui bahwa sosok Rayi adalah sosok pria yang kunanti, bagiku dia adalah segalanya. Pada malam itu kebahagiaan seperti milikku, tapi pada malam itu pula kecelakaan menimpaku dan Rayi. Dari arah yang berlawanan Truk besar yang oleng menghantam mobil yang kita naiki, Truk itu tepat mengarah kepada Rayi. Benturan dahsyat tak dapat terhindarkan. Saat itu aku bersimbah darah, aku merasakan sakit yang teramat dari tanganku yang tertindih Jok yang menghimpit kuat  tanganku. Kaca yang menyayat pipiku, di arah yang lain kulihat Rayi terpental entah kemana. Pada saat itu lalu aku tak sadarkan diri. Karna kecelakaan itulah kini Rayi terbaring kaku di Rumah Sakit.  Aku menghampiri Rayi yang sedang terkulai dengan langkahku yang lemah. Hatiku berteriak, hatiku menangis, tak menerima semua ini. Aku membelai wajahnya dengan tanganku, air mata mengalir deras, hingga menetes membasahi pipi Rayi. “Ini aku Via, Sivia.. Aku datang menemuimu, lihatlah aku disini buka matamu Rayi,,” terisak. “Sudahlah Via, sudah kau jangan membebani batinmu, Rayi akan baik baik saja, karna Rayi adalah orang yang kuat, dan dia akan lebih kuat dengan adanya kau, kau wanita yang memberikan kekuatan kepadanya” Bang Anjar berupaya menghentikan tangisku. “Aku takut kehilangannya bang, aku takut” Jawabku dengan badan yang tersungkur. Bang Anjar membangunkanku,”Bersabarlah, bertawakallah, semua ini rencana Allah, kita hanya bisa berdo’a meminta yang terbaik untuk Rayi”. Aku kembali menghampiri Rayi, kugenggam erat erat tangannya, kukecup tangannya. “Aku disampingmu, aku akan selalu berada di sampingmu” bisikku di telinga Rayi. Lalu aku pergi sebentar mengambil air wudhu, dan Sholat di sampingnya. Setelah itu kuambil Al-Quran dan aku membaca surah Yassin sembari kubisikan ketelinga Rayi. Kubacakan Sholawat, Asma Allah. Dan tak lupa kulantunkan dzikir untuknya. Tak sadar aku tertidur disampingnya dengan masih mengenakan mukena. Sebilah tangan menggenggam tanganku, aku terperajat terbangun, dan kutemukan Rayi yang terbangun, ia siuman dari komanya. Dia tersenyum padaku, dengan terkekeh dia berkata “Via terimakasih karna selama ini kau telah memberikan warna dikehidupanku. Jika aku pergi kenanglah aku, kenanglah aku sebagai kenangan yang indah,Kenangan yang takan pernah sirna meski beribu kisah datang, kenangan yang akan abadi tersimpan, dirimu menyatu dalam darahku, mengerti setiap gundahku kau hapus dengan tawa riangmu
sayang…. pelangi hadir warnai langkah kita meski kadang tak indah namun warnanya tak pernah pudar”. Hatiku getir, haru menyeruak, aku menangis. Dia menyapu air mataku, dia peluk erat diriku. Dengan tangis “ Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu.Jika suatu hari kau rindukan aku, sholatlah, datanglah kepadaNya, Dialah yang maha mengetahui segalanya dan Dialah yang mengatur segalanya,,, Love You”. “Laaillahaillallah,,muhammadarrosulullah..” dengan sisa nafas yang dia miliki kata itu lah yang terakhir dia ucapkan.

Qullu nafsin daaiqotul maout, setiap yang berjiwa pasti akan mati. Inilah akhir perjalanan hidup rayi di dunia. Kita terpisah di dunia ini, tak lain adalah untuk bersama kembali di dunia yang lain.

Hidup ini memang penuh misteri,  begitu banyak rintangan yang menghadang,

 namun aku tidak boleh skat sampai disini, aku masih harus jalani hidup, aku harus bangkit.

Melihat kedepan bahwa jalanku masih panjang, kusingsingkan lenganku hajar keterpurukanku.

Meski angin menerpa kencang menghadang setiap langkahku, tapi disinilah kupijakan langkahku. Menggenggam tangan, bulatkan tekad sulutkan semangat.

Percaya bahwa hidup terasa indah terasa berwarna karna adanya warna warni pahit manisnya kisah kehidupan.

Kan kubiarkan semua ini menjadi kenangan, Kenangan yang takan pernah sirna meski beribu kisah datang, kenangan yang akan abadi tersimpan, dirimu menyatu dalam darahku,

Dirimu yang selalu mengerti setiap gundahku kau hapus dengan tawa riangmu.

Muhammad Rayyina Aljabar Hakim…. Kau adalah pelangiku,pelangi yang hadir warnai langkah kita meski kadang tak indah namun warnanya tak pernah pudar.

 

Oleh : Nisa Sri wahyuni

^NieSyalala^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s