Memulai untuk menunggu akhir

imagesjk

“How do you spell ‘love’?” Satu kata yang sampai detik ini tak dapat ditafsirkan oleh nalar.  Yapz, cause of “You don’t spell it…but you feel it.”

 

Cinta itu seperti bermain piano. Pertama, kita harus belajar untuk bermain sesuai aturan, setelah itu kita harus melupakan aturan dan bermain dari hati kita. Cinta, cinta yang kadang membuatku tertawa bahagia tak beralasan, Cinta juga yang kadang menyesakkan dada dan menyulitkanku bernafas. Makna dari cinta itu bukanlah untuk memilih dan di pilih, bukan untuk selalu bersama, dan bukan untuk selalu bahagia. Karna ketika kita memilih Cinta, artinya kita memilih untuk MENINGGALKAN atau DITINGGALKAN. Meninggal/Ditinggalkan pacar, Meninggal/Ditinggalkan cerai, Meninggal/Ditinggalka meninggal dunia. Right, that’s all make me want to tell you samothing that “All good things come to an end.”

 

Saat pertama menatap dalam dirinya, aku begitu yakin ini Cinta. Mata sejuk , senyum manis , dan sapaan hangatnya, aaah.. semua itu membuat hatiku takan pernah bisa berdusta bahwa cinta ini memang untuk dirinya. Aku sadar bertemu dengannya itu merupakan nasibku, menjadi temannya merupakan pilihanku, tapi untuk jatuh cinta dengannya, sungguh itu di luar kuasaku.

 

Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, tatapan mengisyaratkan harap, tatapan yang mengingatkan ku akan penantian panjang ini, tatapan yang akhirnya membuatku sadar, bahwa aku sangat mencintainya, dan aku tidak ingin kehilangan dia, aku tak ingin kehilangan tatapan itu. Sungguh.

 

“Woyy.. bengong aja nih” Gertak Farhan memaksa lelembutanku untuk sadar dari lamunan dan kembali ke alam nyata.

“Ih, lo resek banget, bikin kaget tau ga?” Jawabku

“Ya abis bengong mulu sih, ga ngeuh apa ada orang ganteng lagi duduk depan muka?”
“KAGAK! Kagak suer deh, deuh mana emang mana orang gantengnya gue mau liat dong?”Belaga bego.

“Eh dasar oon, iniiiii nih! Coba liaatttt bukaa matanya” Sambil membelalakkan mataku

“….” Hanya bisa melongo

“Dih, malah melongo kayak gitu kaya kambing ompong tau gak? Udah ah kita cabut yuk Ra, temenin gue makan” Mengajakku pergi sambil merangkulkan tangannya ke pundakku.

Aaahh ya tuhan, entah kenapa justru sikapnya yang seperti inilah yang melumpuhkanku, yang membuatku sejenak melayang mengantarkan jasad ke tempat yang entah aku sendiripun tak tahu namanya.

“~~~~~~~~~~~~~~~~”

Terkadang aku tak ingin waktu ini cepat berakhir, tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Sabtu ini, sabtu dimana aku harus melepas masa SMA ku, masa masa yang telah banyak mengukir kisah. Dan artinya akupun harus melepas masa masaku bersama Farhan. Orang yang selama 3 tahun ini aku kagumi dan aku cintai, walau sebatas dalam hati.

 

Dengan High Heels Silver berGlitter Pink dan Kebaya Pink dihiasi aksen Silver yang aku kenakan, hal itulah yang setidaknya bisa meyakinkanku, bahwa hari ini aku benar benar sedang berada di sebuah gedung di acara pelepasan siswa, ya hari dimana aku harus melepas semua angan dan harapan terhadap Farhan. Yaa, aku harus bisa. Mungkin aku dan Farhan hanya di takdirkan sebagai teman. Meski begitu dia akan tetap jadi tinta emas dikehidupanku.

 

Hari ini aku berharap bisa bertemu Farhan untuk terakhir kalinya setidaknya aku ingin menghambiskan sisa waktuku yang terakhir sebelum aku berangkat ke Solo untuk melanjutkan pendidikanku disana. Jam menunjukan pukul 14.20, namun Farhan tak menampakan diri sedikitpun dihadapanku. Hati mulai gelisah, bercampur dengan keraguan. Pesimis aku bisa bertemu Farhan di hari terakhir ini. Di tengah keputus asaan, Aku berniat untuk bersiap pulang menyusul beberapa teman lainnya yang sudah melenyapkan dirinya entah kemana. Namun saat aku tengah beranjak dari temat duduk ku, seseorang menepuk pundakku dan memangil namaku. Suara yang indah yang menggoda fikirku untuk bergelut menebak sosok orang tersebut. Tangan lembut itu… yaa tangan yang mengingatkanku akan kehangatan, dan kelembutannya serta kejahilan sosok orang tersebut. Ya itu pasti… Segera kutolehkan kepala, dan benar saja, kini sosok yang ku nanti tepat berada di depan mataku. Terasa berbeda, Farhan sungguh terlihat lebih mempesona dari biasanya. Dengan Jas Abu ke silveran yang iya kenakan saat itu. He looks so cool, and charm. Nyaris ku teteskan airmata karna menahan haru. Haru karna aku bisa menatap orang yang dapat menyejukan hatiku, dan sekaligus haru karna tinggal beberapa jam lagi aku harus meninggalkannya, meninggalkan dia sang inspirasiku.

 

Dari kejauhan terdengar suara Zeva sahabatku meneriakkan namaku dan disertai langkah menuju tempat dimana kau dan Farhan bediri “Raaa… Faziiraa kemana aja lo? Gue nunggu lo di depan, gue dapet bangku di depan soalnya”

“Hehe.. sory zev tadi gue dateng telat, sekitar jam 10an gue baru dateng. Acara udah di mulai kursi penuh, ya akhirnya gue dapet tempat duduk di belakang itu juga di kasih Abri sih”

“Yaudaahlah gapapa. Eh by the way busway nih ya, lo han… kok lo bisa Matchingan gtu sama si Zira? Nah loh jangan jangan?” Menggoda

“Eh lo zev, gausah sotoy. kumat dah tuh penyakit lo” Bantahku

“Ahaha iya nih, udah sehati kali ya?” Dengan enteng Farhan menjawab.

“Aciee.. moment yang tak pantas terlewatkan. Ok ok biar gue abadikan moment ini oke” Segera mengeluarkan cameranya untuk memotret Fazira dengan Farhan.
Akupun menyesuaikan posisiku untuk bersiap, sontak aku kaget tiba tiba Farhan melingkarkan tangannya di pundakku. *Jepret-Jepret* Beberapa photo berhasil di take.
Sesi photo terhenti karena Zeva dipanggil oleh pak Jaya untuk membicarakan sesuatu. Dan sekarang tinggalah Kita berdua, ya Aku dan Farhan.

 

“Euh han, lo daritadi dimana? gue cari dari tadi gak ada” Kataku memecah kesunyian

“Aahaha ada deh, kenapa? Kangeun?” Dengan nada menggoda.

“Eh Ra, lo udah mau pulang? itu udah siap siap aja tuh kayanya”

“Tadinya sih iya, tapii…”

“Tapi apa?”

“Engga deh”

“Yaah lo Raa, bikin penasaran aja. Eh Ra, keluar  dulu yuk, gaenak disini berisik”
Farhan mengajakku keluar dengan menggandeng pergelangan tanganku.

“Nahh kalo disini kan enak. Oh iya ra, lo beneran jadi mau Kuliah di solo?”

“Iya jadi Han, semuanya udah siap dan kayanya ini hari terakhir gue disini, kan besok gue udah harus berangkat. Lo lupa?”

“Engga sih, tapi ko berasa secepet itu ya? Perasaan baru kemaren lo ngomongin ini?”

“Udah 2 bulan yang lalu kali Han. Lagian lo kan tau sendiri, semenjak papah mamah pisah, rumah di jual, papah udah ngejalanin hidup barunya dan gue fikir lebih baik sekarang gue ikut mamah disolo” Jelasku sambil menundukan kepala.

“Ya tuhaan” Sesal farhan.

“Kenapa?” tanyaku.

“Gimana mungkin lo mau ninggalin gue disini Ra? Ra plis kasih gue waktu” Dengan nada yang memelas”

 

Ya tuhaan? Apa aku tak salah dengar itu? Apa maksud dari kata kata itu? Batinku.
“Ra, lo kalo sama gue nyaman ga sih?” Tanya Farhan

Membuatku bertanya, kenapa ini anak mendadak nanya kaya gitu.

“Ya nyamanlah, udah selama ini gue jadi sahabat lo, lo masih nanya itu?” Jawabku yang kemudian diikuti kesunyian

“Gue mau ngomong seriusan Ra” | “Ada yang mau gue omongin Han” Kata kata itu keluar berbarengan.

“Yaudah lo dulu Han”

“Ok. Dengerin gue Ra. Gue kenal lo udah 3 tahun, dan semoga waktu 3 tahun itu benar benar membuatku yakin, Yakin akan rasa yang dari 3 tahun silam ini gue pendem. Gue gamau ngebiarain bintang gue jatuh ke tangan orang lain. Lo paham kan?

 

Apa maksudnya? Batinku. Farhan menyimpan rasa kepadaku? Begitukah? Oh yaampun, andai dia tahu bahwa akupun punya rasa yang sama.

Farhan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna Pink lengkap dengan pita. Dan sontak membuatku terkejut. Bukan hanya karna warnanya Pink, warna kesukaanku, tapi makna dari adanya benda itu.

 

“Ra, di dalem ini ada masa depan gue, tolong di baca dan fikirkan baik baik. Ok Ra? See you.” Menepuk pundakku. Farhan lalu pergi begitu saja tanpa menunggu sepatah katapun keluar dari mulutku. Rupanya Farhan paham, dia memberikanku waktu untuk memikirkan semua arti dari perkataannya.

 

Ku buka kotak itu, dan ternyata Ada cincin yang dibaliknya berinisialkan huruf F. Farhan? Fazira? Aaah aku melupakan sesuatu, di dalam kotak itu ada selembar ketas yang di lipat.

Dear Fazira

Selama ini aku menyianyiakan waktu, waktu yang menenggelamkanku kepada ketidakpastian.Rasa cinta tumbuh di hatiku seiring kita sering bersama dan seiring kita sering menghabiskan waktu bersama.

 

Zira, sekuat tenaga aku meyakinkan diriku akan ketidakbenaran rasa ini. Namun semakin aku ingkari bahwa memang rasa ini untukmu semakin aku yakin pula bahwa kaulah yang kumau untuk menjadi masa depanku,dan kaulah yang terbaik. Aku rasa waktu 3 tahun ini tidak membuatmu menyangsikan perasaanku padamu.Kau sangat tahu aku, begitupun aku padamu.Kau tentu tahu aku, aku orang yang tak bisa berkata romantis, tapi dalam surat ini, lihatlah usahaku untuk menguntai kata kata indah demi orang terindah.

 

Kamu tau? Selembar kertas dan cincin ini akan menjadi penentuan masa depanku Zira. Besok pagi aku tunggu kamu di Stasiun pemberangkatan kamu ke Solo pukul 08.00, dan pakailah cincin itu atas jawaban dari penantian panjangku.

                                                                                                            Farhan Diaz Attaqim

“~~~~~~~~~~~”

 

Pagi itu aku bergegas untuk keberangkatanku ke Solo. Aku mengenakan jeans biru dengan kaos berwarna Peach dan Jaket jeans yang senada dengan celana. Rambutku kubiarkan terkuncir ikat, dengan bando kecil polos berwarna Fresh Salmon untuk menjepit poniku. Ku kenakan kacamata Peachku yang berbingkai tosca, dan ku kenakan sepatu Sneakers biru. Yeay! It’s my favorite style.

Dengan membawa perbekalan kecil, tas jeans biru yang ku soren, koper kecil dan pastinya yang takan terlupakan yaitu kupakai Cincin pemberian dari Farhan.

 

Ada suatu perasaan yang lain dalam hati ini. Aku sunguh tak memahaminya, bahkan tak sedikitpun. Semacam rasa bimbang, deg degan, semua bercampur.

 

Pukul 07.50 aku sudah berada di Stasiun. Tentu saja sebelum berangkat ke Solo, aku ingin terlebih dahulu bertemu orang yang menurutnya aku adalah masa depannya.

Waktu berjalan, jam di tanganku sudah menunjukan pukul 08.15 menit, tapi Farhan tak kunjung datang. Ku keluarkan ponsel, berharap ada pesan singkat dari Farhan memberiku kabar atau alasan tentang ketelatannya. Namun aku salah, tak ada panggilan atau sms satupun.

Aku mencoba menyabarkan diri. Sampai aku benar benar yakin dengan jam menunjukan pukul 09.10. “1 jam 10 menit” batinku. Kereta sudah menungguku. Hingga pukul 09.55, tersisa 5 menit sebelum keberangkatanku. Dan saat itu aku yakin, Farhan tak datang untukku.

 

Tanpa menunggu lama lagi, aku bangkit dari tempat dudukku. Menghela nafas panjang, menahan rasa sesak dan perih didada. Kembali kutengok jam. Ya. tepat pukul 10.00, ini dia waktunya aku melepaskan segala kenangan, termasuk kenangan yang kuharap manis namun kenyataannya terasa pahit yakni kenangan akan hari ini. Hari dimana aku merasa dicampakkan dan dipermainkan.

 

Ku raih koperku, segera kutaiki tangga dan masuk ke dalam gerbong kereta. Ku cari tempat duduk yang kosong dan cukup lengang, beberapa menit kepalaku mengitari sekitar gerbong dan Yaps, akhirnya tatapanku berpusat ditempat yang berada diujung pojokan kanan. Akupun duduk, tepat dekat dengan jendela. Dari balik kaca kembali kutatap kursi tempatku duduk tadi, aaah…. semua ini terasa sakit. Kugigit bibir bawahku, sekan mengisyaratkan kesakitan. Jantungku bedetak tak beraturan. Semua ini bagaikan mimpi buruk bagiku. Ku tundukan kepala, memandangi cincin yang ku pakai. Air mataku meleleh tak terbendung. Aku seakan merasa telah mencintai orang yang salah.

 

Beberapa menit kemudian, seeonggoh tangan muncul dihadapanku dengan sehelai sapu tangan. Bukan menerimanya, aku malah terdiam dan tak menghiraukan tangan asing itu.

“Together someday. It’s in the dreams I have. I’ll be your sunset. If you’ll be my silhouette” senandung orang tersebut bernyanyi.

“Arrghh.. sial” Batinku. Lagu itu mengingatkanku kepada seseorang.

“Tak ada gunanya menangis” Sambung orang tersebut

“,,,,,,” cuekku sambil memalingkan wajah ke arah jendela.

“Oh ternyata seperti ini rasanya dicampakkan, aaah aku jadi merasa berdosa telah mencampakan seseorang selama 2 jam lebih”

What he said? Batinku.

Aku masih memalingkan wajah, pria itu kini duduk di sampingku.

“Sudahlah, jangan keluarkan air matamu lagi. Untuk apa kau menangisi orang yang tak kau anggap ada padahal sedari tadi berada di depanmu”

Sontak kubalikan muka, dan ku liahat sosok pria itu. Jeans, t shirt putih dan jaket dengan tas ransel yang di bawanya dan dengan kacamata hitamnya membuat hatiku mengakui betapa sempurnanya orang yang berada disampingnya itu. Sekilas aku mengenali orang tersebut. Dan perlahan ia membuka kacamatanya. Dan oh ternyaataaaaa. Farhan! Segera kuhamburkan pelukanku yang desertai pukulan pukulan kecil di dadanya.

“Maaf, membuatmu menunggu” Ucap Farhan sambil mengelus rambutku yang masik berada dalam peluknya.

“Jahat kamu!” memukulnya pelan dengan tangis yang masih tersisa.

“Mulai dari sekarang kamu harus terbiasa menerima kejahatanku Zira, karna aku juga akan pindah ikut Bude dan Pakle ku di Solo, dan aku akan kuliah disana, ya di kampus yang sama denganmu hanya saja dengan fakultas yang berbeda. Dan itu artinya berarti kau, akan sering-sering jadi korban kejahatanku seperti ini. Ahahaha” Jelas farhan.

“Kamu serius han? Kamu gak lg boongin aku? Km gak lg ngejahatain aku lg kan?”
“Seriuslah suer sebenernya aku udah nyiapin ini dari jauh jauh hari. Ra, lihat ini” menunjukan cincin yang sama. “mana punyamu, apa kamu memakainya?”
“Seharusnya aku tidak memakainya, untuk apa aku mencintai orang jahat seperti mu?”
“Ooohh jadi gitu?” Goda farhan

-_- Pipiku memerah

“Jadi, gimana ra? Kamu mau tetep jadi dayang gue eh sahabat gue maksudnya atau mau jadi pacar sekaligus masa depan gue aja?” Dengan entengnya

“HAH” Fazira Sock bukan main mendengar kata-kata Farhan. Fazira memalingkan wajah tepat beberapa senti berhadapan dengan Farhan. Meskipun ia tahu Farhan menyimpan rasa. Tapi kali ini dia benar benar kaget mendengarnya secara langsung.

 

“Udah ah itu apaan sih pasang muka kaya gitu, jelek tau” Farhan menepuk lembut pipi Fazira kemudian dengan cepat dia mengecup pipi kanannya “Gue tahu lo pasti bakalan jawab IYA” Farhan mengerling.

Fazira masih bengong mamandang Farhan. “Kenapa Ra? Pasti lo lagi bersyukur ya dapet cowok paket lengkap kaya gue?”

“Diiih amit amit GR lo ga ilang ilang” Tukas Fazira

Farhan melingkarkan tangannya di bahu fazira. Mereka duduk berdampingan, menjauh dari tempat semula jauh jalan menembus tempat tujuan. Farhan sumringah bisa melihat Fazira tersenyum lega. Dan Fazira, ia merasa lega sekaligus mengiyakan kata kata Farhan tadi. Fazira semakin yakin, inilah keputusannya ia dan Farhan memilih Cinta. Cinta yang datang untuk mengasihi tidak dengan mencari orang yang sempurna, tetapi dengan belajar untuk melihat orang yang tidak sempurna dengan sempurna. Bukan untuk mencari bahagia, karna bahagia takkan pernah kita dapat dari cinta. Seperti yang aku katakan tadi ujung dari CINTA itu sesungguhnya adalah MENINGGALKAN atau DITINGGALKAN.  Dan bagiku ini semua kisah yang baru ku mulai untuk menunggu akhir.

 

Selesai.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s